Ads 468x60px

Photobucket

Featured Posts

Jumat, 10 Agustus 2012

Menapak Jejak Kepahlawanan Sang Kyai

 Telah dimuat di Malang Post
Judul buku        : Damai Bersama Gusdur
Editor               : Rumadi
Penerbit            : Kompas
Cetakan I         : Februari 2010
Tebal                : xxxiv + 158 hlm.
Peresensi          : Muhammad Rajab*  
            Ketokohan seseorang menonjol ketika yang bersangkautan meninggal. Begitu yang terjadi pada KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pejuang kemanunisiaan yang meninggal 30 Desember 2009 ini telah banyak mencurahkan pikiran-pikiran bahkan tenaganya untuk bangsa. Maka tak salah kalau banyak masyarakat memberinya gelar sebagai seorang pahlawan karena jasa-jasanya yang begitu banyak terhadap bangsa.
            Salah satu yang menonjol dari Gus Dur adalah perannya sebagai penyeimbang gerakan keagamaan dan politik di Indonesia. Ia tidak pernah berada di satu ekstrem ke ekstrem lainnya. Dengan sadar ia menentang arus besar dengan mental dan legitimasi yang kuat. Ditambah dengan garis keturunan dari keluarganya telah mewariskan kemampuan intelektual dan modal kepemimpinan yang membuat ia bertahan.
            Gus Dur merupakan sosok yang sangat gigih memperjuangkan perdamaian melalui gerakan pluralismenya.  Sebelum meninggal ia berpesan, “saya ingin di kuburan saya ada tulisan; di sinilah dikubur seorang pluralis”, (hal. 69). Mantan Ketua Permusyawaratan Rakyat Amin Rais sangat setuju apabila Gus Dur dianugerahi gelar pahlawan nasional. Amin Rais menilai Gusdur adalah ikon pluralisme. Ia berpendapat, Gus Dur merupakan tokoh yang diterima segenap bangsa Indonesia.
            Buku “Damai Bersama Gus Dur” ini memuat kumpulan berita, artikel, tajuk rencana, hasil jejak pendapat, dan analisis yang dimuat harian Kompas. Buku ini merupakan lanjutan dari buku “Gus Dur: Santri Par Excellence” yang sudah terbit pertengahan Januari. Buku setebal 158 halaman ini menggoreskan benang merah; Gus Dur yang tampil merakyat dan memiliki obsesi perdamain, kepeninggalannya meninggalkan rasa hampa dan sepi bagi bangsa.
            Ruh perdamaian yang diperjuangkan Gus Dur melalui ide-ide pluralismenya merupakan tindakan tepat untuk kondisi masyarakat Indonesia yang plural. Walaupun menurut pandangan Nahdlatul Ulama (NU), pluralisme yang diperjuangkan adalah pluralisme dalam perspektif sosiologis, bukan pluralisme dalam perspektif teologis. Karena menurut Ketua Umum PBNU, K.H. Hasyim Muzadi, pluralisme teologis justru dapat merugikan teologi semua agama karena hanya akan menghasilkan keimanan dan keyakinan beragama yang campur aduk.
            Wafatnya Gus Dur merupakan kehilangan besar bagi NU dan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia menurut Hasyim, kehilangan dua hal besar dan mahal dengan kepergian Gsu Dur, yaitu demokrasi dan humanisme. Humanisme Gus Dur benar-benar berangkat dari nilai-nilai Islam yang paling dalam, tetapi melintasi agama, etnis, teritorial dan negara.
            Umat Islam yang menjadi mayoritas kelompok agama di Indonesia difasilitasi dan didorong agar mampu melaksanakan otontesitas ajaran agamanya yang menyeru kepada perdamaian yang menjadi kekuatan yang mengayomi kebhinekaan bangsa. Sementara yang mereka menebar kebencian atas nama agama, dibatasi atau bahkan dihentikan geraknya.
            Tasarruful imam ala ar-ra’iyah manuutun bil mashlahah, kebijakan seorang pemimpin haruslah mengacu pada kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Itulah kaedah fiqih yang dipergunakan Gus Dur dalam mengibarkan sayap perdamaian di tengah-tengah masyarakat plural Indonesia.

Man of peace
            Buku ini adalah sebuah kesaksian tertulis untuk sang pahlawan pluralisme. Dengan sangat komprehensif, buku ini menyajikan sebuah bukti pengakuan dari berbagai tokoh nasional bahwa Gus Dur adalah sosok man of peace (pencinta damai) juga sebagai bapak pluralisme dan multikulturalisme. Bagi perdamaian, keikhlasan dan kejujuranlah pahlawan kelahiran Jombang ini mempersembahkan seluruh hidupnya. Kecintaan pada bangsa ini mengatasi kecintaannya pada pada dirinya, sehingga dalam kondisi fisik yang sudah sangat rapuh pun ia masih saja berpikir untuk rakyat dan bangsa Indonesia.
            Winston Churchil salah satu tokoh favorit Gus Dur, pernah mengatakan, history will be kind to me for I intend to write it, sejarah akan berlaku baik kepadaku karena akulah yang akan menuliskannya. Sepanjang hidupnya Gus Dur telah melukiskan sejarahnya sendiri, dan tulisan di makamnya hanyalah untuk mengabadikan apa yang selama ini telah disaksikan, bahwa Gus Dur adalah orang yang sepanjang hidupnya berjuang untuk kemanusiaan.
            Menjadi orang yang berjuang untuk kemanusiaan, memang seolah garis yang sudah ditetapkan untuknya. Seluruh hidupnya, ia mengabadikan dirinya untuk membela mereka yang papa dan terpinggirkan. Sejak pukul lima pagi, rumahnya sudah terbuka untuk semua. Mulai dari warga yang teraniaya datang mengadukan nasibnya, atau mereka yang datang meminta doa, tak kurang pula yang datang mengharap lebih dari sapa. Semua dibantu dengan terbuka. Bahkan menurut pengakuan anaknya Yenny Zannuda Wahid, tak jarang membuat iri anak-anaknya sendiri. (hal. xv)
            Keberagaman bangsa Indonesia diyakini oleh Gus Dur akan mendatangkan kemaslahatan bangsa, bukan memecah bangsa. Karena baginya perbedaan adalah rahmat. Dalam sebuah wawancara untuk penyususnan disertasi Benyamin F. Intan di Boston College, Gus Dur menandaskan perlunya tiga nilai universal, yaitu kebebasan, keadilan dan musyawarah untuk menghadirkan pluralisme sebagai agen pemaslahatan bangsa dan terciptanya perdamaian di tengah perbedaan hidup.           
            Buku ini merupakan jawaban bagi yang ingin mengetahui lebih mendalam mengapa begitu banyak orang yang mencintai Gus Dur?, apa saja yang telah ia lakukan dalam memperjuangkan nasib bangsa, terutama mereka yang lemah, tertindas dan tersingkirkan?, apa saja bentuk penghargaan yang telah diberikan masyarakat kepadanya?.
*Peresensi adalah
Penulis Buku dan Peneliti di Pusat Studi Islam
Universitas Muhammadiyah Malang

»»  Baca selengkapnya...

Berdamai di Tengah Perbedaan

Judul buku        : Merajut Kebersamaan dalam Keragaman
Editor               : Denny Mizhar dan Hasnan Bachtiar
Penerbit            : ReSIS Literacy
Cetakan I         : Maret 2010
Tebal                : 191 halaman
Peresensi          : Muhammad Rajab

Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari berbagai macam etnis, bahasa, budaya, golongan bahkan agama. Atau singkatnya bisa  disebut sebagai negara multikultur. Keragaman tersebut tak jarang menimbulkan respon dan sikap negatif di tengah-tengah masyarakat. Sehingga memacu terjadinya berbagai macam konflik, baik konflik batin maupun konflik fisik.
Indonesia yang sangat kaya dengan budaya tersebu memang sangat rentan terhadap konflik dalam proses intraksi budaya, jika pemahaman akan keragaman tidak tertanam sejak dini. Karena dalam kenyataannya yang obyektif, perbedaan warna kulit sering menjadi pemicu kesalahpahaman. Tidak hanya permasalahan warna kulit, persoalan bahasa, kesukuan, budaya juga menambah komleksitas fakta keragaman.
Munculnya berbagai macam respon sikap atas keragaman ini memang sudah sangat mungkin terjadi dalam masyarakat. Karena memang, sifat dan karakter seseorang berbeda dengan orang lain. Namun demikian, bukan berarti sikap negatif tersebut tidak bisa dikendalikan. Banyak cara yang bisa digunakan untuk merajut sebuah kebersamaan dan persatuan. Salah satunya menurut buku ini adalah dengan melalui pendidikan.
Atas dasar itulah, nilai-nilai toleransi atas keragaman identitas itu penting untuk ditanamkan pada masyarakat. Proses penanaman nilai ini bisa dilakukan melalui melalui agenda pendidikan lintas budaya (multikultur). Karena melalui pendidikan, pembentukan manusia bermula. Dalam pendidikan, anak didik diupayakan benar-benar mengerti betapa Islam merupakan agama yang rahmatan lil’alamin. (hal.ix)
Yonki Karman menilai pendidikan lintas budaya merupakan sebuah konsep cemerlang untuk meredam konflik dan memupuk perdamaian. Pendidikan lintas budaya tersebut merupakan sebuah pendidikan yang menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan persatuan kepada peserta didik. Bukan pendidikan yang mengajarkan kebanggaan terhadap golongannya sendiri-sendiri dan menjelekkan golongan lain yang berbeda dengan dirinya. Pasalnya, tak jarang kita menemukan lembaga pendidikan yang terlalu mengajarkan fanatisme terhadap golongannya.
Pendidikan memiliki peran penting dalam mentransormasikan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, saling menghargai, lebih-lebih pendidikan agama. Karena agama adalah kepercayaan yang dianut dan diyakini menjadi landasan hidup dalam bermasyarakat. Pendidikan agama dapat dijadikan sebagai media penyebaran strategis demi terciptanya harmoni dalam perbedaan.
Asumsi mendasar buku ini menjelaskan mengapa pendidikan memegang peranan penting adalah bahwa anak merupakan investasi masa depan yang akan meneruskan perjuangan bangsa. Untuk itu nilai-nilai kebersamaan dan toleransi dalam bermasyarakat perlu ditekankan kepada seluruh peserta didik, baik itu dalam keluarga maupun sekolah.
Tidak salah kalau Ki Hajar Dewantara mengatakan, bahwa salah satu asas pendidikan adalah asas kemerdekaan. Pemaknaan kemerdekaan dalam konteks ini adalah bagaimana sebuah bangsa tidak memperjuangkan kepentingan-kepentingan pribadi maupun golongan.
Menurut Paulo Freire, bahwa tujuan pendidikan sebenarnya adalah memanusiakan manusia. Artinya bagaimana seorang manusia diharapkan melalui pendidikan bisa melihat dan menilai manusia sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak pandang apakah manusia tersebut berbeda dengan kita, baik secara budaya, bahasa, bahkan agama.
Penanaman akan pentingnya kebersamaan dalam perbedaan hendaknya menjadi prioritas pendidikan saat ini. Pasalnya, saat ini Indonesia benar-benar membutuhkan generasi yang benar-benar mampu menghadapi banyaknya perbedaan. Karena arus globalisasi tidak menutup kemungkinan akan membawa dampak terhadap munculnya berbagai macam paham dan golongan.
Buku ini berusaha menjelaskan bagaimana menanamkan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan kepada peserta didik. Menariknya, buku yang diedit oleh Denny Mizhar dan Hasnan Bachtiar ini juga memuat kisah-kisah inspiratif yang bisa dijadikan contoh penerapan kebersamaan dan persatuan dalam keberagaman hidup.
Pada intinya buku ini kita untuk melihat perbedaan dan keragaman secara positif, seperti sebuah taman, akan terasa indah jika dihuni oleh bumi beraneka warna. Demikian pula kehidupan. Di luar perbedaan itu semua manusia adalah sama. Sejumlah cerita yang telah disajikan buku ini terkadang membuat kita tersenyum dan merenung.  Sehingga buku ini sudah selayaknya menjadi rujukan para guru khususnya dan masyarakat pada umumnya.

»»  Baca selengkapnya...

Mengungkap Rahasia Persahabatan

Judul buku      : The Secrets of Friendship
Penulis             : Muhammad Rajab dan Abd. Wahid Shomad
Penerbit           : Prestasi Jakarta
Cetakan I        : Maret 2010
Tebal               : 160 halaman
Harga              : Rp. 28.500,-

            Membangun persahabatan di tengah-tengah masyarakat yang plural tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu ada seni atau keterampilan dalam menciptakan persahabatan dan hubungan sosial yang harmonis. Sehingga banyak orang yang tidak bisa bergaul dengan masyarakat secara baik dan harmonis.
Di sisi lain ada sebagian orang yang sudah bersahabat sekian tahun, kemudian berakhir dengan permusuhan bahkan pertumpahan darah. Kesalahan dalam mengelola dan menjaga persahabatan merupakan  penyebab utama dari retaknya dunia persahabatan tersebut.
Berangkat dari fenomena tersebut Muhammad Rajab dan Abdul Wahid Shomad tergerak untuk memberikan kunci mudah dalam membangun dan menjaga persahabatan. Berawal dari sebuah asumsi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan pernah lepas dari interaksi dengan orang lain, kedua penulis menekankan betapa pentingnya membangun hubungan sosial di tengah-tengah masyarakat yang tertuang dalam bukunya The Secrets of Friendship.
Dalam buku ini penulis memaparkan beberapa tips untuk membangun persahabatan dan hubungan sosial yang baik. Dalam menguraikan tips-tips tersebut kedua penulis menggunakan tiga pendekatan utama, yaitu pendekatan sosiologis, psikologis dan agama. Ketiga pendekatan itu kemudian dikombinasikan sehingga menghasilkan satu cara membangun dan menjaga persahabatan dalam kehidupan.
Secara sosiologis, bersahabat dengan orang lain merupakan kebutuhan pokok manusia. Bapak sosiolog dunia Ibnu Khaldun mengatakan, al-insanu madaniyyun bit-thob’i artinya bahwa manusia secara alami membutuhkan orang lain. Sekaya apapun dan sesukses apapun seseorang pasti membutuhkan bantuan dan pertolongan dari orang lain, baik dari sahabat, tetangga dan masyarakatnya.
Dalam buku ini diceritakan bahwa seseorang yang tidak mempunyai sahabat ibarat orang yang berada di tengah lautan. Kemudian ditengah lautan tersebut ia kehilangan arah dan tidak ada siapa pun yang bisa dimintai pertolongan kecuali dirinya dan Tuhan. Atau ibarat orang yang kehilangan arah di tengah luasnya gurun pasir yang gersang.
Penjelasan tentang kunci persahabatan dalam buku ini sangat komprehensip dan sistematis. Dengan bahasa yang mudah dicerna dan menggugah penulis memulai penjelasan dengan pentingnya persahabatan, membangun persahabatan, kemudian menjaga persahabatan tersebut.
Dalam hal ini, kunci utama dalam membangun dan menjaga persahabatan adalah cinta. Karena cinta merupakan sumber segalanya. Dua orang bisa bersatu karena cinta. Demikian pula sebaliknya, orang bisa berpisah karena cinta. Cinta merupakan energi dahsyat yang bisa menggerakkan semua aktivitas manusia. Karena cinta, manusia pelit jadi dermawan, manusia malas jadi rajin, dan manusia jauh jadi dekat.
Mengelola cinta untuk menjadi energi positif dalam bersahabat tidak mudah. Karena tak jarang cinta mengalami distorsi yang mengakibatkan permusuhan dan pertikaian. Dua orang yang awalnya bersahabat akrab tiba-tiba berubah menjadi musuh yang sangat dibenci dikarenakan salah memaknai dan mengelola cinta. Buku ini berusaha membuka rahasia persahabatan dan cara mengelola cinta dengan baik dan benar di dalam dunia persahabatan.
*Peresensi adalah
Pencinta buku dan Peneliti di Forsifa Universitas Muhammadiyah Malang
»»  Baca selengkapnya...

Membaca Sosok Pemimpin Bersahaja


Telah dimuat di Malang Post
Judul buku        : Hatta, Si Bung yang Jujur & Sederhana
Penulis              :  Adhe Firmansyah
Penerbit            : Garasi House of Book
Cetakan I         : April 2010
Tebal                : 160 halaman
Peresensi          : Muhammad Rajab*

Jika India memiliki Mahatma Gandhi sebagai bapak negarawan yang sederhana, santun, bersahaja bagi rakyatnya, maka Indonesia memiliki Bung Hatta. Sepanjang hidupnya, Bung Hatta berperilaku senantiasa menampilkan sikap yang santun terhadap siapa pun. Baik kawan maupun lawan. Terhadap Bung Karno yang pada masa sebelum kemerdekaan melakukan kerja sama cukup erat namun kemudian mereka tidak dapat bekerja sama secara politik, tetapi sebagai sesama manusia, Bung Hatta masih menghormatinya. Ketika Bung Karno sakit, Bung Hatta menengoknya. Demikian pula sebaliknya. Kesantunan menjadi sikap dalam hidupnya untuk saling menghargai.
Saat peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tiba, nama  tokoh kelahiran 1902 ini ramai dibicarakan. Para wartawan sibuk mewancarai anak cucu keturuannya untuk menanyakan kesan-pesan terhadap sang Proklamator. Sebab jika kita memperbincangkan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia tidak akan pernah lepas dari pembahasan tokoh yang satu ini. Perannya dalam prokalamasi kemerdekaan sangat besar.
Keberanian dan keteguhannya mengantarkan dirinya menjadi salah satu tokoh kunci pergerakan bangsa. Keberaniannya nampak ketika ia menandatangani naskah proklamasi, naskah sakti bukti pernyataan kebebasan Indonesia atas kolonialisme bersama Soekarno yang akhirnya  dijuluki Dwituggal. Mereka berdua penanggung jawab peralihan kekuasaan dari pemerintahan kolonialisme kepada negara merdeka yang berkesatuan.
            Banyak  kisah tentang Hatta yang menyadarkan kita semua, bahwa Indonesia pernah memiliki seorang pemimpin dan negarawan yang teramat bersahaja. Hal itu terlihat saat Bung Hatta mulai tidak sepaham dengan Bung Karno antara lain menganggap Bung Karno sudah ke-kiri-kirian, terlebih saat Bung Karno mencetuskan ide Nasakom, Bung Hatta yang sudah tidak sepaham lagi dengan Bung Karno memilih mengundurkan diri 1 Desember 1956.
            Buku ini berbeda dengan buku-buku yang lain. Di dalamnya tidak hanya diceritakan bagaimana perjuangan Bung Hatta merebut kemerdekaan bangsa Indonesia, tetapi juga dijelaskan kisah kehidupan pribadinya. Membaca buku ini, kita disuguhi menu hidangan seorang manusia yang uncorruptable dan sederhana.
            Banyak teladan yang perlu dicontoh dari Bung Hatta. Dia adalah sosok yang jujur karena tidak pernah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme selama menjadi pejabat negara. Di juga jujur terhadap hati nuraninya. Pada saat yang sama, dia adalah pribadi yang sederhana dan apa adanya.
            Paahlawan bangsa ini tidak pernah tergoda dengan kekuasaan. Setelah mengundurkan diri dari pemerintahan, dia menjadi warga negara biasa. Beberapa perusahaan menawarinya untuk menjadi komisaris, tetapi dia menolak. Alasannya dia malu dinilai hanya mencari pangkat dan jabatan. Dia juga tidak mau dinilai rakyat seperti orang yang mementingkan diri sendiri dengan tidak mau memperhatikan perkembangan negeri ini.
            Sikap jujur dan kesederhanaannya juga ditunjukkan dengan menolak kenaikan uang pensiun. Bahkan dia menolak diberi rumah tambahan yang lebih besar karena takut tidak mampu membiayai ongkos perawatan rumah tersebut. Prinsipnya yang kokoh itu kian tampak ketika Bank Dunia menawarkan kedudukan pada Hatta, tetapi dia tak mau menerimanya. Penolakan itu sempat mengecewakan anak-anaknya. Halida anak bungsunya mengatakan bahwa ia ingin kuliah ke luar negeri. Namun keinginannya itu tertunda lantaran penolakan Hatta atas posisi yang ditawarkan Bang Dunia tersebut.
            Peristiwa menakjubkan terjadi pada 1970. Ketika itu Bung Hatta diundang berkunjung ke Irian Jaya (Papua), untuk sekaligus meninjau tempat dia pernah dibuang pada masa penjajahan Belanda. Di sana dia disodori amplop sebagai uang saku, tetapi dia menolaknya. Ketika amplop itu disodorkan kepadanya, spontan dia berkata, “surat apa ini?”. Dijawab oleh Sumarno yang mengatur kunjungan Hatta, “bukan surat Bung, uang saku buat perjalanan Bung Hatta di sini. Bung Hatta menjawab, bukankah uang ongkos sudah ditanggung pemerintah. Sumarno terus meyakinkan Hatta agar menerima uang itu, tapi tetap ditolaknya dengan alasan bahwa uang itu adalah uang rakyat. (hal. 107)
            Hatta juga merupakan politisi santun dalam mengutarakan pendapatnya. Setelah tidak menjabat wakil presiden dia tampil sebagai oposisi yang rajin menyampaikan kritik kontruktif terhadap pemerintahan Soekarno. Dia tidak mau mengerahkan massa, memprovokasi, memberontak, dan sebagainya. Karena dia bukanlah tipe agitator dan haus kekuasaan. Dia rajin mengkampanyekan pentingnya mendidik rakyat secara rasional.
            Kejujuran dan kesantunan yang diperlihatkan Bung Hatta menunjukkan sikap kesatria negarawan yang patut dihargai dan dicontoh. Dalam hubungannya dengan Soekarno misalnya, dia menunjukkan kerja sama yang kritis (critical cooperation) terhadap Soekarno. Bahkan adakalanya Hatta memberikan masukan langsung datang istana selain menulis surat atau menelpon. Soekarno pun tetap menganggap Hatta sebagai teman dan bukan musuh yang harus dilumpuhkan.
            Pada intinya, buku ini memberikan suguhan sosok teladan kepada para pemimpin untuk tidak melakukan praktik politik kotor, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sehingga buku ini sangat cocok dibaca oleh para pemimpin khususnya dan masyarakat pada umumnya, supaya bisa mengambil pelajaran bagaimna sikap kesantunan dan kejujuran Bung Hatta dalam berpolitik dan memimpin.

*Peresensi adalah
Penulis Buku dan Peneliti di Pusat Studi Islam Unmuh Malang
»»  Baca selengkapnya...

Pola-Pola Mengatasi Anak Fobia Sekolah

Dimuat di Koran Jakarta, 11 Agustus 2012
Anak-anak kebanyakan senang bersekolah karena dapat bertemu teman-teman. Dengan riang dan ceria, mereka berangkat ke tempat belajar. Namun begitu, tidak sedikit yang bermalas-malasan bersekolah. Tempat belajar menjadi momok menakutkan. Mereka terpaksa setengah dipaksa untuk ke sekolah.

Mereka mogok sekolah. Sikap ini kemungkinan besar karena gangguan psikis atau fobia sekolah. Fobia dimengerti sebagai suatu ketakutan yang tidak rasional atas objek atau situasi tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya. Menurut Ivan Ward, fobia itu ketakutan yang tidak masuk akal. Jadi, fobia sekolah adalah bentuk ketakutan yang tidak masuk akal.

Orang tua tentu bingung kalau anak mogok sekolah. Di satu sisi, orang tua sebaiknya menghindari pemaksaan kepada anak, tapi di sisi yang lain harus mampu memberi pendidikan yang terbaik. Fobia sekolah harus ditangani. Kalau anak dibiarkan tidak masuk sekolah dalam waktu lama, akan makin sulit penanganannya. Sebaliknya, semakin cepat ditangani, fobia cepat pula terselesaikan.

Setidaknya, ada empat jenis fobia sekolah: tahap awal (initial school refusal behavior) berlangsung sepekan, lebih dari sepekan (substantial school refusal behavior), tahap akut (acute school refusal behavior) dua minggu hingga setahun. Terakhir fobia paling berat (chronic school refusal behavior) berlangsung setahun lebih (hlm 24).

Setelah mengetahui tingkatan masalahnya, buku ini menyarankan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab mogok sekolah. Di sini, orang tua harus hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi agar dapat menangani secara benar. Alangkah baiknya jika orang tua mau bersikap terbuka dalam mempelajari sikap anak. Konsultasi dengan guru di sekolah, sharing sesama orang tua murid. Jangan lupa ajak anak berdiskusi. Jika perlu, konsultasi dengan konselor atau psikolog untuk mendapat gambaran penyebab fobia (hlm 27).

Ada beberapa sebab anak mogok. Di antaranya, mudah cemas, hubungan tidak sehat di rumah, keluarga sering bertengkar, pengalaman abusive, atau tindak kekerasan, dan pengalaman negatif di sekolah atau lingkungan (hlm 24-33).

Kasus ini dapat ditangani dengan memberi pengertian kepada anak akan arti penting sekolah, belajar, dan berteman. Perhatikan keluhan-keluhan anak. Konsultasi kesehatan ke dokter. Yang lebih menentukan, orang tua harus meluangkan lebih banyak waktu untuk berdiskusi dengan anak (hlm 43).

Buku setebal 206 halaman ini bisa menjadi bahan rujukan para orang tua dalam menyelesaikan permasalahan anak yang malas belajar dan fobia alias mogok sekolah. Dengan bahasa yang lugas dan pembahasan yang sederhana tapi komprehensif, buku itu juga mengupas berbagai permasalahan belajar anak, penyebab, dan solusinya.

Diresensi Muhammad Rajab, pencinta buku, tinggal di Malang

Judul buku : Mengatasi Anak Mogok Sekolah Malas Belajar
Penulis : Imam Musbikin
Penerbit : Laksana
Cetakan I : Maret 2012
Tebal : 206 halaman
ISBN : 978-602-191-131-0
»»  Baca selengkapnya...

Kamis, 09 Agustus 2012

Pesantren dalam Kancah Sosial-Politik Indonesia

Judul buku        : Tradisi Pesantren; Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa
                         Depan Indonesia.
Penulis              : Zamakhsyari Dhofier
Penerbit            : LP3ES
Cetakan           : September 2011
Tebal                : ix + 307 halaman
Harga               : Rp. 48.500,-
Peresensi          : Muhammad Rajab*
Telah diakui bersama bahwa pesantren memiliki peran besar dalam perkembangan sosial-politik Indonesia. Terbukti sejak munculnya hingga sekarang pesantren masih eksis dan terus mengadakan perubahan untuk menjawab tantangan Indonesia sesuai dengan perkembangan zaman.  Tokoh-tokoh inspirasional dalam kancah sosial dan politik Indonesia banyak yang lahir dari pesantren, seperti Gus Dur, Hidayat Nur Wahid, Syafii Ma’arif, Din Syamsuddin, Nurcholis Majid,  dan lainnya.
Pesantren menjadi fondasi dan tiang penyangga paling penting bangunan peradaban dan sosial-politik Indonesia sejak tahun 1200. Kemudian, mulai tahun 1999 pesantren meningkatkan perannya dalam pembangunan peradaban Indonesia hingga memasuki millennium ketiga. Sejak tahun 1999 itu para kyai meningkatkan aktivitasnya agar lebih mampu mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia ke masa depan. Tradisi pesantren, sesuai dengan azas ahlu sunnah wal jama’ah yang dianutnya meningkatkan kembali ajakannya agar masyarakat dan bangsa Indonesia tidak hanya pandai bertikai, tetapi bersikap arif dan mampu mendahulukan kebersamaan, kesatuan, dan pemerataan keadilan bagi masyarakat luas dalam hal keagamaan, kebudayaan, ekonomi, sosial dan politik.
Buku yang ditulis oleh Zamakhsyari Dhofier ini berusaha menguatkan kembali peran pesantren yang oleh sebagian kalangan dianggap tidak mampu menjawab tantangan zaman. Tradisi pesantren yang menurut mereka adalah kolot, statis, dan sentralistik dibantah dalam buku ini. Buku ini sebenarnya sudah lama terbit, pertama diterbitkan sekitar tahun 1980-an di USA. Kemudian terjemahannya dalam bahasa Jepang terbit di Tokyo tahun 1984. Buku hasil disertasi doktor antropologi sosial di The Asutralian National University (ANU) ini terbit dalam bahasa Indonesia tahun 1982. Buku yang sekarang hadir kembali di tengah-tengah kita ini merupakan edisi revisi yang sudah banyak mengalami  penambahan bab menyesuaikan dengan perkembangan kehidupan kebudayaan, sosial, ekonomi, dan politik bangsa Indonesia.
            Buku yang ditulis berdasarkan studi lapangan atas lembaga pesantren Tegalsari dan Tebuireng ini bermaksud menggambarkan dan mengamati perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan pesantren dan Islam yang dianut oleh para kyai di Indonesia yang dalam Indonesia modern tetap menunjukkan vitalitasnya sebagai kekuatan sosial, kultural dan keagamaan dan aktif membentuk  bangunan kebudayaan Indonesia modern. Karena itu, dalam kancah politik pun pesantren tetap sangat diperhitungkan.
Keberhasilan para kyai dalam menghimpun kekuatan yang besar di Indonesia dewasa ini bukan semata-mata karena jumlah pengikutnya lebih banyak daripada Islamnya, tetap juga karena kuatnya hubungan sosial, kultural dan emosional antara sesama kyai dan dengan para pengikutnya. Dalam situasi peralihan ke sistem pemerintahan demokrasi dewasa ini, organisasi sosial, keagamaan, dan politik yang didukung oleh para kyai memang masih mengalami sejumlah kelemahan, namun ikatan emosional, sosial, dan kultural mereka sangat kuat. Pengikut kyai pada umumnya masyarakat miskin dan mereka itu merupakan kelompok mayoritas. Oleh karena itu, para kyai cenderung dan dapat membagi-bagi suara dominan pengikutnya itu untuk memilih calon-calon DPR atau DPRD yang sesuai dengan kepentingan masyarakat lokal dan pesantrennya masing-masing (halaman 9).

Kyai dan Politik
Para sarjana yang mempelajari kebudayaan dan politik Indonesia pada umumnya mengakui, bahwa Islam di zaman penjajahan Belanda merupakan faktor pemersatu bagi kelompok-kelompok suku bangsa yang tinggal terpencar-pencar di berbagai kepulauan. Bahkan di luar negeri pun, koloni Indonesia di Mekkah (Jawa Community) juga merupakan wadah yang sangat efektif bagi percampurbauran kelompok suku bangsa tersebut.
Sebagai pusat dakwah pengembangan Islam pesantren dengan kepemimpinan seorang Kyai telah mampu membangkitkan ruh persatuan dan kesatuan umat Islam. Karena itu, sampai dengan permulaan tahun 1920-an yang silam, Islam menjadi pendorong tumbuhnya gerakan nasionalisme. Setelah gerakan nasionalisme meluas hingga meliputi kelompok-kelompok suku bangsa yang tidak beragama Islam, seperti di Manado, Maluku, Sumatera Utara, Bali, dan Nusa Tenggara Timur, maka gerakan nasionalisme dijiwai oleh unsur baru yaitu perasaan bersatu sebagai satu bangsa Indonesia. Islam tetap menjadi unsure pemersatu yang sangat kuat bagi kelompok suku bangsa Indonesia yang beragama Islam –yang merupakan sekitar 88 persen penduduk Indonesia –yang dapat mengurangi perasaan ekslusivisme kesukuan. Ini semua tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah pesantren yang selama berabad-abad telah menumbuhkan perasaan solidaritas bersama sebagai penghuni wilayah nusantara.
Kini mereka tetap membenahi dirinya untuk tetap memiliki peranan dalam membangun masa depan Indonesia. Mereka tidak mendambakan, apalagi melindungi pandangan hidup tradisional menjadi suatu sistem yang tertutup dan memalingkan diri dari proses modernisasi.
Pendek kata, buku ini ingin menggambarkan semangat Islam para kyai pimpinan pesantren yang dikenal dengan benteng pertahanan umat Islam dan pusat penyebaran Islam. Oleh karena itu, Dhofier di sini berusaha menyoroti sejarah kedua pesantren yang diteliti, terutama mengenai perannya dalam pelestarian dan pengembangan Islam ahlusunnah wal jama’ah di Indonesia kira-kira 1875, sampai dengan masyarakat Indonesia memasuki periode millennium ketiga.

*Peresensi adalah
Penikmat buku dan Penggiat Kajian di PSIF Unmuh Malang
»»  Baca selengkapnya...

Islam Anti Kekerasan

Oleh: Muhammad Rajab*
            Fenomena kekerasan antarumat agama akhir-akhir ini menjadi perbincangan menarik di berbagai media. Di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia konflik antarsesama umat beragama masih terjadi. Kondisi ini tentu dapat menggaggu stabilitas sosial dan kekhusuan dalam beragama.
            Islam sebagai agama yang hanif tidak menghendaki terjadinya aksi kekerasan. Karena kekerasan hanya akan merusak hubungan yang harmonis antarsesama serta dapat merusak tali silaturrahim. Padahal Allah SWT telah mengisyaratkan dalam al-Quran bahwa dalam hidup kita harus mampu membangun hubungan baik dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan baik dengan manusia (hablumminannas).Allah berfirman:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. Ali Imran: 112)
Saat ini Citra umat Islam, khususnya di Indonesia. Stigma negatif terhadap umat Islam ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Agama yang dibawa Nabi Muhammad ini sama sekali tidak mengajarkan kekerasan terhadap umatnya. Islam adalah agama yang harmonis, cinta damai, dan sangat menghargai perbedaan, sekalipun beda agama.
            Dalam beberapa ayat al-Quran telah banyak dijelaskan bahwa Islam telah memberikan kebebasan kepada umat manusia untuk memilih agama dan keyakinan mereka. Perintah dakwah dalam al-Quran tidak memaksakan da’i (orang yang berdakwa) untuk memaksa mad’u (orang yang didakwahi) untuk mengikuti ajakan tersebut, apalagi sampai menggunakan kekerasan. Di dalam al-Quran Allah SWT berfirman: Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan,” (QS. al-Maidah: 99)
            Ayat di atas sudah jelas bahwa tugas seorang rasul dan para da’i adalah menyampaikan risalah Allah SWT tanpa disertai dengan pemaksaan dan kekerasan. Abu Ja’far menjelaskan yang termaktub dalam kitab tafsir at-Thobari bahwa ayat di atas mengemukakan tentang kewajiban seorang rasul yang hanya menyampaikan saja, jika orang yang diajak menerima dan ta’at maka Allah akan memberi pahala baginya, tapi jika mereka berma’siat (mengingkari) maka Allah akan memberikan adzabnya kepada mereka.
            Dalam perjalanan sejarah Rasulullah SAW bisa kita lihat bahwa Nabi dalam berdakwah tidak pernah menggunakan kekerasan. Beliau lebih mengedepankan cinta kasih serta saling menghormati tanpa ada pemaksaan. Ketika Rasulullah SAW pertama kali hijrah ke Madinah, beliau mampu mempersatukan dua suku besar yang saling bermusuhan yakni Suku Auz dan Suku Khazraj. Dengan bersatunya dua suku besar Madinah ini kemudian banyak di antara mereka yang kemudian masuk Islam.
            Terlepas apakah fenomena terorisme adalah propaganda Yahudi atau tidak, Islam sangat menjunjung perdamaian. Islam sebagai agama agung yang diridhoi Allah SWT membawa misi sesuai dengan misi kemanusiaan. Bukti lain yang menguatkan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin adalah Islam telah mampu menghapus perbudakan dan penindasan yang terjadi pada zaman jahiliyah. Salah satu kebiasaan masyarakat jahiliyah yang tidak manusiawi adalah mengubur bayi perempuan mereka hidup-hidup, yang kemudian Islam datang mampu menghapus semua tindak kebejatan tersebut.

Menghargai Perbedaan
            Kasus-kasus kekerasan atas nama agama yang saat ini marak terjadi itu sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Islam sebagai agama yang agung telah memberikan isyarat kepada manusia dalam al-Quran untuk menghargai perbedaan dan menjalin hubungan baik dengan orang lain termasuk dengan yang beda agama sekalipun jika mereka (orang non muslim) tidak memerangi kita. Dalam al-Quran Allah menjelaskan, Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka. (QS. an-Nisa’: 90)
            Ayat lain yang mengemukakan tentang perlakuan baik dan adil kepada orang-orang non muslim adalah, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. al-Mumtahanah: 8).
            Isyarat al-Quran tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa Islam adalah agama yang sangat menghormati perbedaan.  Dalam al-Quran surat al-Kafirun ayat 1-6 adalah gambaran betapa Islam memberikan kebebasan kepada umat manusia untuk menghargai perbedaan keyakinan. Hal ini tidak lain hanya untuk menebarkan sebuah kedamaian di muka bumi ini, karena Islam adalah rahmatan lil’alamin.  
Sikap saling menghargai dan saling menghormati sama lain tersebut akan mendukung terwujudnya misi perdamaian dan keharmonisan yang dijunjung oleh Islam. Misi mulia Islam ini telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat pada masanya dahulu. Suatu hari ketika setiap kali Rasulullah SAW berangkat ke masjid beliau selalu diludahi oleh salah saorang kafir Quraisy. Namun pada hari keempat Rasulullah SAW mendapatinya tidak ada yang meludahi lagi, kemudian beliau bertanya kepada para tetangganya tentang orang tersebut. Ternyata dia sakit, dan kemudian orang yang pertama kali menjenguk orang tersebut adalah Rasulullah. Berkat kelembutan hati Rasulullah SAW itulah orang tadi menyatakan masuk Islam.
Dengan demikian, sudah semestinya umat Islam saat ini memahami kembali tentang misi Islam yang sesungguhnya agar terhindar dari tindak-tanduk kekerasan. Karena dengan ini agama Islam sebagai rahmatan lil’alamin akan terwujud di muka bumi ini. Wallahu a’lam bissawab.


           
             

»»  Baca selengkapnya...