Rabu, 25 Januari 2012

MEMAHAMI TEOLOGI SEBUAH BENCANA


Telah dimuat di Malang Post
Oleh: Muhammad Rajab
            Berbicara masalah teologi maka kita akan berbicara bagaimna hubungan sebuah bencana dengan Tuhan. Allah sebagai pencipta alam semesta juga sangat mudah untuk menjadikan alam ini hancur lebur, baik dengan dengan mendatangkan bencana alam kepada segenap penduduk, atau dalam bahasa lain kita sebut dengan takdir. Walaupun takdir Allah SWT sebenarnya mengiringi usaha manusia itu sendiri.
            Mengawali pembahasan ini sebuah ayat yang patut untuk ditelaah terlebih dahulu adalah, “dan sendainya penduduk suatu negeri itu beriman dan bertakwa (kepada Allah), maka sungguh akan Kami buka pintu berkah dari langit dan bumi (untuk penduduk desa tersebut). Akan tetapi mereka mendustakan, maka Kami azab mereka atas apa yang telah mereka perbuat”.
            Memaknai ayat dia atas, bahwa Allah SWT akan memberikan berkah atau rezeki kepada suatu penduduk negeri jika penduduk tersebut benar-benar beriman kepada Allah SWT dan jauh dari kemiskinan. Namun mafhum mukhalafahnya berarti Allah akan memberikan sebuah bencana atau azab kepada penduduk sebuah negeri jika penduduk tersebut bermaksiat kepada Allah SWT.
            Terkait dengan bencana yang sering melanda Indonesia, seperti tanah longsor, tsunami, banjir, dan gempa. Maka satu hal yang menjadi tanda tanya besar adalah ada apa dengan Indonesia?, apakah bangsa ini sudah menjadi bangsa yang bermaksiat dan melanggar ketetapan-ketetapan Allah SWT, baik itu ketentuan yang hubungannya langsung dengan Allah atau yang hubungan dengan alam semesta.
            Semua itu bisa jadi benar, bahwa Allah SWT benar-benar hendak memberikan pelajaran bagi penduduk Indonesia yang telah melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan Tuhan terhadap alam semesta. Sebuah pengalaman yang pernah saya temui di sebuah perkampungan. Suatu ketika saya tidak sengaja melewati sebuah jalan yang dipinggirnya ada sungai kecil, tiba-tiba datang seorang perempuan yang membuang tumpukan sampah ke sungai dengan tanpa malu, padahal orang tersebut tahu ada orang yang melihatnya. Mungkin ini kasus kecil, namun ini merupakan sebuah gambaran bahwa sebagain masyarakat kita tidak lagi memperhatikan keberssihan lingkungan.
            Atau bisa jadi ada dosa lain yang dilakukan oleh negeri ini sehingga menjadikan Allah SWT menurunkan sebuah bencana kepada Indonesia sebagai bentuk pelajaran agar kembali ke jalan-Nya. Bukankah Allah telah memberikan azab kepada umat sebelum kita karena kesombongan  mereka dan tidak mau beriman kepada Allah SWT. Padahal telah datang pemberi peringatan kepada mereka seorang rasul (utusan Allah).
               Harun Yahya pernah mengulas tentang kota Pompeii yang konon dihancurkan oleh 'kekuatan' Tuhan karena penduduk kota tersebut tidak bermoral. Pompeii yang terletak di dekat gunung Vesuvius dicap sebagai simbol dari degradasi akhlak pada zaman kekaisaran Romawi, di mana kota itu menjadi pusat perzinaan dan praktek homoseksual. Jauh sebelumnya, Tuhan pun pernah murka karena alasan yang hampir sama, dan lalu meluluhlantakkan Sodom.
               Kisah lain adalah Nabi Nuh a.s. yang dipaparkan Allah dalam al-Quran. Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar. Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42).
            Beberapa kaum yang telah dihancurkan oleh Allah tersebut bisa menjadi sebuah renungan. Hal itu sebagai cermin bagi kita untuk mengaca apakah negeri yang sering kali dilanda bencana ini sudah dimurkai oleh Allah SWT karena sering kali terjadi melanggar aturan-aturan-Nya.
            Menurut Ija Suntana, ada tiga kelompok manusia yang berbeda cara pandang. Pertama, sekelompok masyarakat memandang bahwa bencana yang terjadi adalah kutukan Tuhan kepada umat manusia akibat perbuatan-perbuatan dosa yang dilakukan manusia sendiri. Bencana yang muncul dianggap sebagai siksaan permulaan yang ditampakkan di dunia dan tidak pandang bulu. Ia tidak hanya menimpa kepada pelaku maksiat, siapa pun bisa terkena. Kelompok pertama mendasarkan pandangannya pada ajaran agama yang menyebutkan demikian. Pandangan ini mendapatkan pembenaran secara sosial. Secara kasat mata berbagai jenis kemaksiatan mekar di tengah-tengah masyarakat.
Kedua, sekelompok masyarakat memandang bahwa bencana yang menimpa kita adalah takdir. Bencana yang terjadi dianggap sebagai cobaan bagi umat manusia. Pandangan kelompok kedua ini mendapatkan pembenaran melalui realita bencana yang tidak bisa diketahui kapan terjadinya dan tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Kita bukan tidak siap siaga menghadapi bencana, tetapi bencana tetap melenggang tanpa memberitahu sebelumnya. Bukan hanya di negara-negara yang belum maju, di negara-negara maju yang memiliki teknologi canggih pun bencana tetap terjadi. Bagi kelompok kedua ini bencana adalah hukum alam yang tidak bisa ditawar lagi. Dan, ini pun merupakan bukti bahwa alam bukan Tuhan yang abadi. Alam adalah makhluk yang pasti akan mengalami kerusakan dan akan berakhir dengan kerusakan.
Ketiga, sekelompok masyarakat memandang bahwa bencana yang menimpa adalah akibat keteledoran manusia. Keteledoran ini tergambar dalam praktik pengerukan kekayaan alam yang tidak seimbang dan tidak mempertimbangkan sisi keselamatan manusia. Keuntungan yang didapat tidak setimpal dengan bencana yang harus ditanggung oleh masyarakat. Pandangan kelompok yang ketiga ini mendapat pembenaran dengan adanya pengerukan kekayaan alam yang mengakibatkan bencana alam. Penebangan hutan secara liar adalah salah satu bukti nyata pemicu bencana alam.
Terlepas dari tiga pandangan di atas, kita meletakkan diri dalam posisi yang seimbang. Artinya, di satu sisi bisa saja bencana yang terjadi di Indonesia merupakan satu kutukan sebagaimana pandangan kelompok pertama. Pasalnya, dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia terhadap aturan Tuhan sering kali dilakukan. Maka benar jika bencana juga disebut adzab atau kutukan dari Allah SWT.
Namun demikian, bencana yang terjadi di negeri ini juga bisa masuk pada pandangan masyarakat yang kedua, yakni bahwa bencan yang menimpa kita merupakan takdir Tuhan sebagai bentuk cobaan bagi kita untuk mengukur tingkat keimanan kita kepada-Nya. “Dialah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amalannya (di antara kalian)”(QS. al-Mulk: 2)
Dan tidak menutup kemungkinan juga akan masuk ke pandangan golongan yang ketiga yang mengatakan bahwa terjadinya bencana akibat keteledoran manusia terhadap pengaturan dan penggunaan alam. Secara realitas bangsa Indonesia sering kali melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan alam, seperti membuang sampah sembarangan, penebangan pohon secara liar (illegal logging), dan lain sebagainya.
Terlepas dari tiga pandangan tersebut, kita harus bersikap objektif. Dalam artian kita harus introspeksi diri terhadap apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Dengan ini diharapkan adanya perbaikan-perbaikan demi terciptanya Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang. Selain itu, perlu adanya positive thinking bahwa segala bencana yang diberikan Allah kepada manusia adalah sebagai pelajaran bagi manusia untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

MEMOAR BOCAH MUSLIM DI LONDON


Telah dimuat di Malang Post
Judul Buku      : Bocah Muslim di Negeri James Bond
Penulis             : Imran Ahmad
Penerbit           : Mizan
Cetakan I        : September 2009
Tebal               : 466 halaman
Peresensi         : Muhammad Rajab*
Penulisan buku ini dilatarbelakangi oleh munculnya pemikiran manusia tentang sesuatu yang disebut “Islam” sedang berperang dengan sesuatu yang disebut “Barat”. Dan sering kali menurut penulis kita tergelincir untuk memihak ke salah satunya. Pasca peristiwa 11 September 2001 Imran Ahamad, penulis buku ini, merasa frustasi terhadap kenyataan bahwa muslim dan Islam dianggap sebagai representasi teroris, yang kelihatannya sering disampaikan oleh media-media Barat. Setiap orang Barat yang tak punya hubungan personal dengan orang muslim manapun akan berasumsi bahwa semua muslim adalah orang-orang gila penuh kebencian yang bersedia menjadi pengebom bunuh diri, penculik-penculik berdarah dingin, dan penindas kaum perempuan.
Kesalahpahaman ini juga terjadi sebaliknya. Di Negara-negara muslim sering terjadi unjuk rasa penuh kebencian dan ancaman terhadap Barat, seolah-olah semua orang Barat bermaksud ingin menghancurkan Islam. Buku ini merupakan sebuah tulisan memoar sang bocah Muslim bernama Imran Ahmad. Dia bermaksud dengan buku ini ada “rehumanisasi” antarsesama manusia.
Imran Ahmad dibesarkan di tengah-tengah masyarakat London yang konon pada masanya rasisme lebih kuat dibandingkan saat ini, dan dilengkapi juga dengan aneka materi dunia mode, mobil, sekolah, serta gadis-gadis Eropa yang secara umum menurut Imran terlihat menarik dan membuat penasaran. Bahkan kata Imran sendiri ketika harus mengatakan mau, maka dialah yang akan berterika mengatakan “saya mau.”
            Ceritanya bermula pada tahun 1964, ketika berusia satu tahun, Imran Ahmad pindah ke Inggris dari Pakistan, tanah kelahirannya, bersama orang tua dan adik-adiknya. Sebagai imigran muslim yang hidup di tengah-tengah masyarakat Barat Kristen, Imran mengalami banyak benturan budaya perlakuan rasial, daging babi, mimpi berkencan dengan gadis pujaan, mobil Jaguar idaman, dan film James Bond.
            Sosok Imran adalah sosok seorang muslim yang canggung karena dibesarkan di luar lingkungannya. Ia melakukan pencarian akan identitas dan kepercayaan, dan sering terjebak dalam kebingungan multikultural. Kemudian Imran menulis memoar tentang masa kecilnya hingga dewasa dengan kejujuran yang kocak dan bijak tentang realitas budaya baru akibat era globalisasi dalam buku setebal 466 halaman ini.
            Bagi kita tidak mudah untuk hidup di tengah-tengah lingkungan yang berbeda dengan lingkungan kita sebenarnya. Apalagi perbedaan lingkungan tersebut erat kaitannya dengan masalah ideologi. Budaya, agama, dan ras yang berbeda tentunya akan menjadi satu tantangan besar. Sehingga menyesuaikan diri dengan budaya dan adat yang ada merupakan suatu tuntutan tanpa harus mengorbankan keyakinan yang kita bawa.
            Buku yang berjudul Bocah Muslim di Negeri James Bond ini adalah gambaran seorang bocah yang tahan hidup ditengah-tengah budaya dan ideologi yang berbeda dengan ideologinya. Bayangkan seorang Imran harus berhadapan dengan kondisi sosial budaya London yang sangat bertentangan denngan keyakinannya. Di sekitarnya adalah orang-orang Kristen, dan budaya yang berkembang di sana adalah budaya Hedonis. Satu keunikan yang luar biasa adalah dia mampu hidup di tengah-tengah kondisi demikian tanpa mengorbankan keyakinan yang dianutnya.
            Sejak kecil dia sudah belajar di sekolah Kristen. Saat itu ia masuk taman kanak-kanak di sekolah Hotham di Putney. Bangunan sekolahnya besar, terbuat dari bata merah bergaya Victoria, dengan dua taman bermain beralas beton. Setiap hari Imran mendengarkan cerita tentang Yesus yang hidup pada zaman dahulu kala.
Suatu hari dia mendapatkan sebuah cerita yang sangat menginspirasi dirinya. Yaitu tentang seorang anak yang pergi jauh dari keluarganya dengan tujuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kemudian dia terpakasa harus mengembala babi untuk hidup, tapi dia sebagai pengembala tak memakan makanan yang terbuat dari babi tersebut.
Kemudian Imran berpikir, jika anak tadi mengembala babi, kenapa dia tidak memakan makanan yang berasal dari babi saja?. Makanan yang dimaksud itu bernama Spam (daging kalengan yang biasanya berasal dari babi) yang disajikan kepada Imran di sekolah. Kemudian Ia berpikir, bahwa telur datang dari ayam, susu dari sapi. Kemudian Sang Bocah Imran menyadari bahwa dirinya memang benar-benar berbeda dengan lingkungan dan teman-temannya, baik sebagai orang asing maupun tidak beragama Kristen. Sehingga akhirnya dia mengambil kesimpulan dari cerita di atas, bahwa memang dirinya setiap hari dia disajikan cerita tentang Yesus, tapi dia menyatakan bahwa walaupun demikian ia tidak harus percaya kepada ketuhanan Yesus.
Sambil sekolah Imran juga mulai belajar Islam setiap hari minggu di sekolah Dasar Islam. Dan akhirnya dia mempelajari sesuatu tentang Islam. Dia baru tahu bahwa umat Islam meyakini al-Quran sebagai firman Tuhan yang suci dan sepenuhnya tiada tandingannya, yang diturunkan kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Dia juga baru tahu bagaimana sejarah Islam pada awal kemunculannya. Saat itu Islam muncul di tengah-tengah kondisi Arab yang jahiliyah. Anak perempuan tidak dihargai dan setiap bayi perempuan yang lahir maka langsung dikubur hidup-hidup, permusuhan antarsuku sangat kuat. Kemudian datang Islam dengan membawa misi perdamaian dengan menyatukan suku-suku yang bermusuhan tersebut, seperti suku Auz dan Khazraj, dan juga Islam kemudian mengangkat derajat perempuan.
Dia juga belajar tentang Yesus, dan ternyata Islam juga mengakui tentang adanya Yesus. Akan tetapi, ada perbedaan teologis antara Yesus dalam Islam dan Yesus menurut orang-orang Kristen. Islam juga mempercayai Musa, Ibrahim, dan nabi-nabi lain yang diutus oleh Tuhan untuk kemaslahatan manusia.
Buku ini pada intinya memberikan gambaran kepada kita tentang realitas budaya baru yang ada saat ini akibat mengalirnya arus globalisasi. Dan buku ini mengajak kita untuk kembali menanamkan ruh perdamaian di tengah-tengah kondisi masyarakat yang penuh kebencian antara Islam dan Barat dengan munculnya stigma-stigma teroris dan semacamnya. Sehingga terbitnya buku ini sangat relevan dengan kondisi umat manusia saat ini. Untuk lebih dalam lagi bagaimana perjalanan Imran Ahmad dalam mengarungi kehidupan di tengah-tengah budaya yang berbeda dengan keyakinannya, kita bisa membaca lebih dalam lagi melalui buku ini. Menariknya lagi, denngan menggunakan bahasa yang lugas buku ini mendeskripsikan kehidupan di Inggris secara gambling, sehingga pembaca seakan-akan diantarkan untuk memahami seluk-beluk kehidupan di Inggris.

*Peresensi adalah
Peneliti di Pusat Studi Islam (Forsifa) Unmuh Malang

MENGUNGKAP RAHASIA KESUKSESAN SUN ZI


Telah dimuat di Koran Jakarta
Judul Buku      : Pesan Rahasia Sun Zi: Hati Sang Jenderal
Penulis             : Bonni Soeherman
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Cetakan I        : 2009
Tebal               : 200 halaman
Peresensi         : Muhammad Rajab*
            Sun Zi dikenal di seluruh negeri sebagai ahli strategi perang. Bahkan sekarang dunia mengakuinya sebagai ahli strategi perang terbesar China. Mengawali perjalanan besarnya, Sun Zi singgah dan ingin mengabdi pada negeri Wu. Saat itu raja He Lu telah mendengar berita tentang seni perang dan timbul niatnya untuk menguji kelihaian Sun Zi dan memintanya untuk melatih gerakan perang 180 selirnya.
            Beberapa saat ia berpikir sebelum kemudian menerima tantangan tersebut. Sun Zi membagi selir-selir menjadi dua bagian dengan masing-masing dipimpin oleh komandan lapangan, selir kesayangannya raja. Beberapa kali dicoba dengan sistem komando yang efektif, namun hasilnya adalah disorganisasi. Setelah member sanksi memenggal kepala kedua komandan tersebut, Sun Zi kembali memilih dua selir lainnya sebagai komandan lapangan pengganti dan hasilnya sangat luar biasa, semua selir tertib layaknya pasukan siap tempur. Tanpa banyak kata akhirnya He Lu mengangkat Sun Zi sebagai jenderal sekaligus ahli strategi perang Wu yang memenangkan banyak perang dan pertempuran sepanjang sejarah China.
            Berita tentang seni perang Sun Zi telah menyebar di negeri Wu. Akhirnya He Lu memanggi Sun Zi untuk mendemonstarsikan keahlian dan efektivitas seni perangnya sebelum menerimanya menjadi jenderal. He Lu menilai ini adalah kelebihan dan talenta Sun Zi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan untuk meningkatkan kekuatan militer negara.
            Ada apa dibalik kesuksesan Sun Zi menjadi seorang jenderal dan pemimpin yang hebat?. Kunci pertama kesuksesannya adalah karena tekad yang kuat, keberanian dan kepercayaan yang ada dalam dirinya. Pasalnya, sebuah kesuksesan tidak cukup mengandalkan langkah-langkah efektif, namun dibutuhkan sikap dan karakter yang baik. Sun Zi berprinsip agar selalu melontarkan pertandingan kecil untuk mengetahui potensi. Sun Zi menunjukkan betapa tekad yang kuat, keberanian dan rasa percaya diri menjadi motor penggerak segala aspek fisik menuju satu fokus yakni kesuksesan.
            Tidak cukup hanya dengan tekad yang kuat, untuk menjadi pemimpin sukses seperti Sun Zi diperlukan juga kemampuan komunikasi efektif. Dalam perang misalnya dapat ditemukan berbagai media komunikasi untuk memudahkan komando, dengan lisan atau dengan alat seperti genderang, bendera dan api. Pertanyaannya, kenapa Sun Zi memilih genderang?. Sangat mudah dijawab, karena kekuatan suara genderang merupakan media yang efektif dan cepat direspon dalam kondisi apapun. Itulah kenapa salesman lebih mengandalkan promosi lewat suara (lip service) dari pada sekadar memasang poster atau mendemontrasikan produknya.
            Adan lima dimensi kepemimpinan jenderal Sun Zi. Lima dimensi inilah yang juga ikut membangun dan membawa Sun Zi menjadi jenderal yang sukses dalam memimpin pasukannya. Lima dimensi tersebut adalah bijaksana, Secara sederhana, bijaksana diartikan sebagai kemampuan memahami nilai-nilai kebenaran dengan perspektif holistik. Setiap keputusan yang diambil selalu melihat dan mempertimbangkan berbagai aspek. Sun Zi menjelaskan seorang jenderal yang baik harus mempertimbangkan berbagai aspek, seperti nasib rakyat, negara, dan kondisi prajurit.
Empat prinsip selanjutnya adalah quanxi atau kepercayaan, kejujuran dan keikhlasan. Kemudian murah hati dan penuh kasih sayang, keberanian atas kebenaran, dan disiplin dan integritas. Boenie Soeherman mengatakan, bahwa tingkat disiplin kondisi kerja mencerminkan kedisiplinan pimpinannya.
             Buku ini mengajak kita berpetualang mengungkap kembali rahasia kemenangan terbesar yang tak pernah lepas dari peran jenderan Zun Zi. Yang pada intinya buku ini bisa dijadikan sebagai jawaban di tengah-tengah kondisi kepemimpinan Indonesia yang kacau-balau.
*Penulis adalah
Peneliti di Pusat Studi Islam Unmuh Malang

Titik Awal Kejayaan Peradaban Islam


Telah dimuat di Okezone.com 4 Januari '12
Judul buku      : 1453; Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim
Penulis             : Roger Crowley
Penerjemah      : Ridwan Muzir
Penerbit           : Pustaka Alvabet
Cetakan I        : 2011
Tebal               : 408 halaman
Peresensi         : Muhammad Rajab*

            Membaca buku sejarah yang ditulis Roger Crowley ini seperti membaca sebuah novel. Dengan bahasa yang mengalir dan penuh metafora, diskripsi latar, alur, dan penokohan cerita sejarah disajikan secara mendetail dan gamblang.  Ketika saya membacanya seakan-akan saya betul-betul menyaksikan secara langsung rentetan peristiwa yang dipaparkan di dalamnya.   Walaupun demikian, buku ini tetap menjaga aspek metodologis dalam penulisan sejarah sehingga tidak kehilangan nilai-nilai ilmiahnya.
Buku ini merupakan catatan ilmiah atas rentetan peristiwa penaklukan dramatis yang dilakukan oleh pasukan Muslim Arab, khususnya Turki Utsmani hingga Konstantinopel jatuh ketangan kaum Muslimin. Dia juga akan menyentuh berbagai aspek lain dari sebuah dunia yang tengah berada di titik puncak perubahan, seperti perkembangan meriam, seni perang pengepungan, taktik perang samudera, keyakinan religious, mitos, dan takhayul-takhayul Abad Tengah.
Buku setebal 408 halaman ini mengisahkan peristiwa besar dalam sejarah dunia yang tak terlupakan, yakni jatuhnya Konstantinopel ke tangan bangsa muslim Turki Utsmani pada 1453. Sebelumnya, selama lebih dari seribu tahun, Konstantinopel telah menjadi pusat peradaban Dunia Barat sekaligus pertahanan Kristen terhadap Islam. Hal itu tidak lain, lantaran Byzantium dikenal sebagai pewaris terakhir kekaisaran Romawi kuno sekaligus menjadi bangsa Kristen pertama. Kota yang berpenduduk sekitar 15 juta jiwa ini sangat luar biasa, berbentuk segitiga yang agak menengadah ke timur dan kedua sisinya dilindungi lautan. Di sebelah utara terdapat teluk kecil dengan air yang dalam, Golden Horn. Sementara di sebelah selatan diapit Laut Marmara yang membentang ke barat sampai ke Laut Mediterania lewat Dardanella.
Kota yang penuh ramalan dan takhayul ini memiliki tembok besar bernama Theodosius yang berusia seribu tahun, pertahanan paling kokoh pada Abad Tengah. Orang Turki Ustmani pada abad ke-14 dan ke-15 menamakannya sebagai “tulang yang menyilang di tenggorokan Allah,” yaitu sebuah hambatan psikologis yang mengganjal ambisi mereka dan yang menghalangi mereka tentang penaklukan.
Karena lokasinya yang sangat strategis yaitu antara batas Eropa dan Asia  dan sebagai pusat peradaban dunia yang menjadi simbol atas penguasaan dunia, maka tak heran jika Konstantinopel menjadi rebutan para penguasa di penjuru dunia, baik Timur maupun Barat. Bahkan dikisahkan dalam buku ini umat Islam sejak 800 tahun tergiur untuk menaklukkannya (hlm. 5). Penyerangan demi penyerangan terus dilakukan terhadap kota ini. Setiap tahun antara musim semi dan musim gugur, musuh-musuh mengepung tembok kota dan menyerang laut di selat-selat kecil yang mengakibatkan pertempuran habis-habisan dengan armada Byzantium. Selama 1.123 tahun sejak awal berdirinya 330 M sampai 1453 M, kota ini mengalami 23 kali pengepungan.
Penyerangan demi penyerangan itu pun seringkali berakhir dengan kegagalan, hal ini tidak lain karena pertahanan tembok Kontantinopel begitu kuat. Hingga akhirnya datanglah Sang Penakluk, Sultan Ustmani, Mehmet II, pemuda 21 tahun yang cinta kemuliaan, berhasil melewati tembok pertahanan kota dengan bala tentaranya yang sangat besar. Berbekal persenjataan baru dan canggih, pada hari Jum’at, 6 April 1453, sebanyak 80.000 pasukan muslim memulai serangan mereka terhadap 8.000 pasukan Kristen di bawah pimpinan Konstantin XI, kaisar Byzantium ke-57.
Pertempuran berlangsung selama 55 hari, sepanjang waktu Mehmet memusatkan pasukannya di tiga tempat; di utara antara Istana Balacernae dan Gerbang Charisan, di bagian tengah di sekitar Sungai Lycus, dan di selatan dekat Laut Marmara di Gerbang Mileter Ketiga (hlm. 265). Hingga pada dini hari di atas jam 02.00 waktu setempat, 29 Mei 1453, pimpinan Konstantin dikelilingi para pengawalnya –Theopilus, Palailogos, John Dalmata, Don Francisco dari Toledo– mati ditebas saat menghalangi prajurit Mahmet. Dengan itu. jatuhlah Konstantinopel ke tangan kaum muslimin, dan berkibarlah bendera Islam sebagai titik awal kejayaan peradaban Islam atas dunia. (hlm. 281)  Atas dasar inilah Piliph Mansel menilai bahwa buku ini merupakan sebuah petunjuk untuk mengetahui mengapa Istambul menjadi kota Muslim.
Di sisi lain, buku yang ditulis oleh alumnus Cambridge University ini menampilkan konstestasi dua tokoh inpspirasional, Sultan Mahmet II dan Kaisar Konstantin XI, yang berjuang demi keyakinan agama dan kekaisaran. Lewat buku ini kita bisa mempelajari seni memipin kedua tokoh pemimpin dunia tersebut. Singkat kata, buku ini mengajak kita untuk berpikir betapa besarnya nilai sebuah peradaban sehingga harus diperjuangkan dengan berbagai pengorbanan, baik harta, waktu, bahkan jiwa. Selamat membaca.

*Peresensi adalah
Penikmat Buku dan Penggiat Kajian di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Unmuh Malang

Selasa, 24 Januari 2012

BELAJAR MENULIS ONLINE

Oleh: Muhammad Rajab*

Perkembangan ilmu pengetahuan makin hari makin pesat. Perkembangan teknologi ini telah masuk ke sela-sela kehidupan manusia. Ia telah menerobos ruang privasi manusia itu sendiri. Pastinya, dengan adanya perkembangan teknologi ini, khususnya teknologi informasi dapat memudahkan kita dalam mengakses dan menerobos dan menjaukau ruang-ruang yang sebelumnya belum bisa kita jangkau.

Salah satu teknologi informasi yang paling terkenal sangat cepat dalam mengakses informasi adalah internet. Dengan internet kita bisa mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dunia dalam hidungan detik. Tentunya ini akan memudahkan kita untuk mengetahui perkembangan yang ada di dunia lain. Dengan demikian kita tidak akan ketinggalan zaman.

Tidak hanya itu, dengan adanya internet kita juga bisa berdiskusi, mengakses buku-buku gratis dan belajar secara online. Belajar menulis pun sekarang sudah bisa melalui internet. Misalnya, ada yang namanya Sekolah Menulis Online (SMO). Kita bisa bergabung di situ dengan mengakases alamatnya, bisa melalui google. Di sana telah disediakan formulir pendaftaran bagi yang mau mendaftar secara online.

Dengan adanya fasilitas-fasilitas yang semakin canggih ini tentunya kita tidak akan kesulitan lagi dalam belajar menulis. Belajar menulis hanya tinggal mengakses internet, dan di sana kita akan mendapatkan banyak ilmu tentang penulisan, seperti penulisan artikel opini, resensi bahkan buku.

Ini berbeda dengan zaman dahulu yang teknologi informasinya masih rendah. Dulu untuk belajar menulis susah sekali. Mungkin orang yang ingin tahu teknis penulisan harus membeli buku terlebih dahulu dengan harga yang relatif mahal. Selain itu, juga, untuk mendapatkan rekan berdiskusi itu juga susah karena keterbatasan teknologi informasi. Paling-paling berdiskusi dengan teman dekat atau tetangganya saja.

Namun, Seiring perkembangan zaman, permasalahan kesulitan dalam belajar tersebut sekarang sudah mulai terjawab. Dengan adanya internet kita bisa mengajak banyak teman untuk berdiskusi tentang kepenulisan, bagaimana cara menulis dengan baik serta dapat menambah khazanah dan wawasan keilmuan yang lain.

Menarimya lagi, selain kita bisa belajar menulis secara online dengan bergabung dengan forum-forum kepenulisan, di internet juga kita bisa mengapresiasikan gagasan, ide, pendapat, cerita, resensi yang kita punya dalam bentuk tulisan, kemudian bisa kita sebarkan melalui internet. Jadi, walaupun tulisan kita tidak diterima oleh media cetak, kita bisa menyebarkannya melalui website atau blog yang kita miliki.

Bagi para penulis pemula seperti saya, dan ingin belajar lebih banyak lagi tentang kepenulisan, mulai sekarang kita aktif dalam mencari informasi dan kesempatan-kesempatan belajar dan berdiskusi melalui internet. Walaupun tidak jarang kita temukan, banyak orang yang rusak moralnya gara-gara internet. Semua itu, bergantung pada individu kita masing-masing.

*Penulis adalah,
Mahasiswa Tarbiyah Unmuh Malang