Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Agustus 2012

Islam Anti Kekerasan

Oleh: Muhammad Rajab*
            Fenomena kekerasan antarumat agama akhir-akhir ini menjadi perbincangan menarik di berbagai media. Di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia konflik antarsesama umat beragama masih terjadi. Kondisi ini tentu dapat menggaggu stabilitas sosial dan kekhusuan dalam beragama.
            Islam sebagai agama yang hanif tidak menghendaki terjadinya aksi kekerasan. Karena kekerasan hanya akan merusak hubungan yang harmonis antarsesama serta dapat merusak tali silaturrahim. Padahal Allah SWT telah mengisyaratkan dalam al-Quran bahwa dalam hidup kita harus mampu membangun hubungan baik dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan baik dengan manusia (hablumminannas).Allah berfirman:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. Ali Imran: 112)
Saat ini Citra umat Islam, khususnya di Indonesia. Stigma negatif terhadap umat Islam ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Agama yang dibawa Nabi Muhammad ini sama sekali tidak mengajarkan kekerasan terhadap umatnya. Islam adalah agama yang harmonis, cinta damai, dan sangat menghargai perbedaan, sekalipun beda agama.
            Dalam beberapa ayat al-Quran telah banyak dijelaskan bahwa Islam telah memberikan kebebasan kepada umat manusia untuk memilih agama dan keyakinan mereka. Perintah dakwah dalam al-Quran tidak memaksakan da’i (orang yang berdakwa) untuk memaksa mad’u (orang yang didakwahi) untuk mengikuti ajakan tersebut, apalagi sampai menggunakan kekerasan. Di dalam al-Quran Allah SWT berfirman: Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan,” (QS. al-Maidah: 99)
            Ayat di atas sudah jelas bahwa tugas seorang rasul dan para da’i adalah menyampaikan risalah Allah SWT tanpa disertai dengan pemaksaan dan kekerasan. Abu Ja’far menjelaskan yang termaktub dalam kitab tafsir at-Thobari bahwa ayat di atas mengemukakan tentang kewajiban seorang rasul yang hanya menyampaikan saja, jika orang yang diajak menerima dan ta’at maka Allah akan memberi pahala baginya, tapi jika mereka berma’siat (mengingkari) maka Allah akan memberikan adzabnya kepada mereka.
            Dalam perjalanan sejarah Rasulullah SAW bisa kita lihat bahwa Nabi dalam berdakwah tidak pernah menggunakan kekerasan. Beliau lebih mengedepankan cinta kasih serta saling menghormati tanpa ada pemaksaan. Ketika Rasulullah SAW pertama kali hijrah ke Madinah, beliau mampu mempersatukan dua suku besar yang saling bermusuhan yakni Suku Auz dan Suku Khazraj. Dengan bersatunya dua suku besar Madinah ini kemudian banyak di antara mereka yang kemudian masuk Islam.
            Terlepas apakah fenomena terorisme adalah propaganda Yahudi atau tidak, Islam sangat menjunjung perdamaian. Islam sebagai agama agung yang diridhoi Allah SWT membawa misi sesuai dengan misi kemanusiaan. Bukti lain yang menguatkan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin adalah Islam telah mampu menghapus perbudakan dan penindasan yang terjadi pada zaman jahiliyah. Salah satu kebiasaan masyarakat jahiliyah yang tidak manusiawi adalah mengubur bayi perempuan mereka hidup-hidup, yang kemudian Islam datang mampu menghapus semua tindak kebejatan tersebut.

Menghargai Perbedaan
            Kasus-kasus kekerasan atas nama agama yang saat ini marak terjadi itu sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Islam sebagai agama yang agung telah memberikan isyarat kepada manusia dalam al-Quran untuk menghargai perbedaan dan menjalin hubungan baik dengan orang lain termasuk dengan yang beda agama sekalipun jika mereka (orang non muslim) tidak memerangi kita. Dalam al-Quran Allah menjelaskan, Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka. (QS. an-Nisa’: 90)
            Ayat lain yang mengemukakan tentang perlakuan baik dan adil kepada orang-orang non muslim adalah, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. al-Mumtahanah: 8).
            Isyarat al-Quran tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa Islam adalah agama yang sangat menghormati perbedaan.  Dalam al-Quran surat al-Kafirun ayat 1-6 adalah gambaran betapa Islam memberikan kebebasan kepada umat manusia untuk menghargai perbedaan keyakinan. Hal ini tidak lain hanya untuk menebarkan sebuah kedamaian di muka bumi ini, karena Islam adalah rahmatan lil’alamin.  
Sikap saling menghargai dan saling menghormati sama lain tersebut akan mendukung terwujudnya misi perdamaian dan keharmonisan yang dijunjung oleh Islam. Misi mulia Islam ini telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat pada masanya dahulu. Suatu hari ketika setiap kali Rasulullah SAW berangkat ke masjid beliau selalu diludahi oleh salah saorang kafir Quraisy. Namun pada hari keempat Rasulullah SAW mendapatinya tidak ada yang meludahi lagi, kemudian beliau bertanya kepada para tetangganya tentang orang tersebut. Ternyata dia sakit, dan kemudian orang yang pertama kali menjenguk orang tersebut adalah Rasulullah. Berkat kelembutan hati Rasulullah SAW itulah orang tadi menyatakan masuk Islam.
Dengan demikian, sudah semestinya umat Islam saat ini memahami kembali tentang misi Islam yang sesungguhnya agar terhindar dari tindak-tanduk kekerasan. Karena dengan ini agama Islam sebagai rahmatan lil’alamin akan terwujud di muka bumi ini. Wallahu a’lam bissawab.


           
             

HAKIKAT MUSIBAH DALAM ISLAM

Oleh: Muhammad Rajab*
            Beberapa tahun terakhir ini Indonesia terus mengalami berbagai macam musibah. Kita sama-sama telah menyaksikan berbagai macam musibah dan bencana yang ditayangkan di media, baik cetak maupun elektronik. Salah satu musibah yang paling mutakhir adalah tragedi tabrakan pesawat Sukhoi di Gunung Salak yang telah menewaskan 45 orang. 
            Pada hakikatnya setiap kejadian yang terjadi di muka bumi ini adalah ketentuan Allah. Namun demikian bukan berarti menafikan upaya manusia sebagai aktor yang berhadapan langsung dengan sebuah kejadian tersebut. Demikian halnya dengan sebuah bencana atau musibah, semuanya telah menjadi ketentuan Allah SWT. Allah SWT berfirman:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. at-Taghabun: 11)
            Setiap manusia tidak akan pernah terhindar dari musibah sebagai bentuk ujian Allah kepada mereka. Hal ini juga telah diisyaratkan Allah dalam al-Quran. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.” (QS. al-Baqarah: 155)
            Abu Ja’far at-Thobari dalam tafsirnya mengatakan bahwa ayat tersebut mengingatkan kita kepada peristiwa musibah atau ujian yang telah diberikan kepada rasul Muhammad dan para sahabatnya, yang mana mereka diuji dengan ujian yang sangat dahsyat. Dan bahwa siapa saja yang mengikuti jejak mereka akan mendapatkan ujian sebagaimana mereka diuji sesuai dengan tingkat keimanan masing-masing orang.
            Kemudian Allah SWT mengabarkan keberuntungan bagi orang yang sabar dalam menghadapi musibah tersebut. Yaitu orang yang berserah diri kepada Allah SWT dengan tetap melakukan upaya untuk keluar dari musibah tersebut.
            Allah SWT tidak akan memberikan ujian atau cobaan di luar batas kemampuannya. Semakin kuat imannya maka semakin besar pula ujian yang diberikan kepadanya. Sehingga kesabaran dan ketabahan  atas ujian tersebut adalah ukuran tingkat keimanan. Semakin sabar seseorang maka semakin tinggi pula keimanannya, tapi sebaliknya semakin tidak sabar maka semakin rendah pula imannya.
            Musibah dan ujian yang diberikan kepada kita saat ini tidak sedahsyat ujian yang ditimpakan kepada orang-orang muknmin salafussholeh dari pendahulu kita, di mana mereka ditimpa dengan berbagai siksaan yang bahkan dapat mengancam jiwa mereka. Allah SWT berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. al-Baqarah: 214)
            Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sangat menakjubkan urusan seorang mukmin, jika  dikaruniai kebaikan ia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim).
            Dalam setiap fenomena kejadian yang menimpa kita sebenarnya Allah SWT ingin tahu siapa di antara kita yang paling baik amal dan sikapnya dalam menghadapinya. Di antara manusia ada yang dengan ujian itu tambah dekat kepada Allah SWT. Demikian juga, ada yang dengan  cobaan yang diberikan Allah tersebut tambah jauh dari Allah SWT.
              Dalam al-Quran surat al-Mulk ayat 2 Allah menjelaskan, “(Dia-lah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
            Selain sebagai sebuah ujian, bencana atau musibah yang menimpa umat manusia juga bisa saja merupakan sebuah adzab atau peringatan dari Allah atas perbuatan yang telah dilakukannya. Misalnya, terjadinya bencana alam dan kerusakan lain di muka bumi ini merupakan akibat dari tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.
            Perbuatan dosa dan kekufuran manusia terhadap Allah dan Rasulnya adalah penyebab utama datangnya adzab Allah SWT. Katakanlah kita melihat kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan umat-umat sebelum Nabi Muhammad yang ingkar kepada Allah dan nabi mereka. Salah satu contohnya adalah kaum Nuh yang dihancurkan oleh Allah SWT karena keingkaran mereka dan tidak mau ikut terhadap ajaran Nuh as. Mereka ditenggelamkan oleh Allah di dalam air bah yang sangat besar. Demikian halnya yang terjadi dengan kaum Luth, Sholeh, dan kaum-kaum lain yang telah dihancurkan oleh Allah SWT karena kesombongan mereka.
            Allah SWT berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum: 41)
            Dalam makna ini, maka musibah merupakan akibat dari ulah perbuatan manusia itu sendiri. Contoh lain, terjadinya banjir yang disebabkan oleh masyarakat yang membuang sampah di sungai, penebangan pohon secara liar dan lainnya. Akibatnya, ketika datang hujan maka banjir tak dapat terhindarkan. Hal ini menunjukkan bahawa sunnatullah atau kita kenal dengan kausalitas (hukum sebab akibat) benar-benar terjadi. Dalam pepatah dikatakan, barang siapa menanam, maka ia yang akan memanen hasilnya.
            Terlepas apakah musibah dan benacana yang terjadi adalah ujian atau adzab dari Allah SWT, kita sebagai seorang muslim dituntut untuk bersikap positif dalam menyikapi segala macam bentuk musibah tersebut. Dengan sikap positif ini diharapkan mampu untuk membalikkan musibah tersebut menjadi sebuah rahmat yang bermanfaat bagi kita.
            Salah satu sikap positif tersebut adalah sabar. Memang bersifat sabar tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun demikian bukan berarti berhenti untuk terus berusaha menyabarkan diri dalam menerima musibah tersebut. Karena pada hakikatnya dalam kondisi susah dan terdesak itulah kesempatan kita untuk bersikap sabar sangat besar. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. al-Baqarah: 153)
            Sikap sabar tersebut tetap harus diiringi usaha dengan mengeluarkan segenap kemampuan untuk  keluar dari musibah yang menimpanya. Setelah berusaha maka langkah selanjutnya adalah doa dan tawakkal kepada Allah SWT agar semua musibah tersebut dapat segera berakhir. Allah SWT berfirman: Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. al-Baqarah: 45)
            Adapun doa tertimpa musibah yang bisa dibaca adalah,
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، اَللَّهُمَّ أُجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah! Berilah pahala kepadaku atas musibah ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik (dari musibahku).”
            Semoga kita tetap diberi kesabaran oleh Allah SWT atas setiap musibah yang menimpa kita. Dan semoga bangsa Indonesia yang saat ini tengah ditimpa bencana besar, baik bencana alam maupun bencana moral dengan cepat mudah terselesaikan dan segera keluar dari bencana tersebut. Wallahua’lam bissawab

Keutamaan Menghafal al-Quran

Oleh: Muhammad Rajab*
Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Dzikra (al-Quran), dan Kami-lah yang akan menjaganya. (QS. Al-Hijr: 9).
            Potongan ayat di atas adalah janji Allah SWT untuk menjaga keautentikan dan keaslian al-Quran. Kemudian Allah SWT betul-betul menjaga al-Quran tersebut melalui lisan para hafidul quran (penghafal al-Quran). Terbukti ketika di awal-awalz datangnya Islam, al-Quran tercecer di pelepah kurma, bebatuan dan kemudian dikumpulkan menjadi satu mushaf melalui para penghafal al-Quran.
            Untuk itulah Allah SWT memberi penghargaan yang mulia kepada mereka dengan menyebut para penghafal al-Quran sebagai ahlullah (keluarga Allah). Artinya kedekatan Allah dengan para penghafal al-Quran lebih dibandingkan dengan yang lainnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, "Siapakah mereka ya Rasulullah?" Rasul menjawab, "Para ahli Al Qur'an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya." (HR. Ahmad)
            Rasulullah SAW juga telah memberikan penghargaan khusus bagi para penghafal al-Quran. Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal al-Qur'an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada’ Uhud yang hafizh Al Qur'an. Rasul mendahulukan pemakamannya. "Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, "Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur'an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat." (HR. Bukhari).
Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanah pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi. Dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah SAW telah mengutus sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada sahabat yang paling muda usianya, beliau bertanya, "Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,"Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah." Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?" Tanya Nabi lagi. Sahabat itu menjawab, "benar." Nabi bersabda, "Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi." (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa'i)
Selain itu, karena hafalannya juga maka para penghafal al-Quran adalah orang pertama yang berhak menjadi imam shalat berjama'ah. Rasulullah SAW bersabda: "Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya." (HR. Muslim)
Kemudian di akhirat kelak akan diperlakukan secara khusus. Bagi mereka akan dipakaikan mahkota kemuliaan. Mereka akan dipanggil, "Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?" Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Thabrani)
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa mereka akan selalu diberi rahmat dan rezeki  oleh Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS. Faathir: 29-30). Semoga kita dan keluarga kita termasuk orang-orang yang mau menghafal al-Quran. Amin….

*Penulis adalah Staf Pengajar al-Quran Unmuh Malang

Hak Seorang Muslim (Haqqul Muslim)


“Kebahagiaan Anda adalah ketika sifat-sifat baik yang ada dalam diri Anda bisa mengalahkan dan lebih menonjol dari pada yang buruk.” (Aidh Al-Qorni)

            Hidup antara sesama manusia mempunyai hak dan kewajiban. Orang lain mempunyai hak dan kewajiban atas kita. Begitu juga sebaliknya kita punya hak dan kewajiban atas orang lain. Hak dan kewajiban tersebut harus dipenuhi sebagai bukti kecintaan kita kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda:
حق المسلم على المسلم خمس : رد السلام وعيادة المريض واتباع الجنائز وإجابة الدعوة وتشميت العاطس[1]

“Hak seorang muslim terhdap muslim lainnnya ada lima, menjawab salam, menjenguknya ketika sakit, mengikuti jenazahnya, memenuhi undangannya (panggilannya), dan membalasnya ketika bersin (dengan mengucapkan ‘yarhamukallah’)”.
1.    Menjawab Salam
            Di antara hak dan kewajiban tersebut sebagaimana dalam hadits adalah menjawab salam. Adapun menyampaikan salam  hukumnya sunnah, sedangkan menjawabnya adalah wajib. Selain menjawab salam itu wajib, hal itu sebagai bukti balasan atas doa yang telah diberikan kepada kita. Maka seharusnyalah kita untuk membalas doa tersebut
Allah SWT berfirman:
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.”[2]
            Menjawab salam dalam arti yang lebih luas adalah menebarkan kedamaian kepada teman. 
2.    Menjenguknya Ketika Sakit
            Pernahkah Anda merasakan sakit?, Apa yang Anda rasakan saat Anda sakit ternyata tak ada seorang pun yang datang menjenguknya? Mungkin yang Anda rasakan saat itu adalah kesedihan dan kenestapaan. Oleh karena itu, Islam mengajarkan umatnya agar menjenguk orang sakit. Selain karena kewajiban, menjenguk teman yang sedang sakit akan memperkokoh tali persahabatan.
Pada suatu hari Rasulullah SAW pergi ke masjid, kemudian di tengah perjalanan beliau diludahi oleh salah seorang bangsa Quraisy. Hari kedua pun sama, Rasulullah diludahi orang yang sama. Hingga pada suatu hari Rasulullah lewat seperti semula di jalan yang biasa beliau lewati, namun tak ada lagi orang yang meludahi beliau.
Kemudian beliau bertanya kepada sahabatnya, ke mana orang yang sering meludahiku setiap aku hendak pergi ke masjid? Ternyata orang tersebut sakit, sehingga tidak dapat lagi meludahi Rasulullah SAW. Apa yang beliau lakukan saat itu?. Beliau langsung menjenguknya. Melihat Nabi menjenguknya akhirnya orang tersebut masuk Islam.
            Bisa kita bayangkan, orang telah berbuat kejam sekalipun harus kita jenguk ketika dia sakit. Demikianlah keramahan Islam yang ditawarkan. Maka dari itu, ketika ada sahabat kita yang sakit, jenguklah ia walaupun tidak membawa apa-apa. Hiburlah ia supaya dia senang dan tenang, doakan supaya dia cepat sembuh. Setidak-tidaknya, kedatangan kita akan meringankan beban sikologinya.
3.    Mengantarkan Jenazahnya
Sebagai salah satu penghormatan kita terhadap saudara kita adalah mengantarkan jenazahnya apabila sahabat dan saudara kita meninggal dunia. Dan hal ini juga sudah merupakan kewajiban oleh seorang muslim. Jadi ketika ada orang muslim yang meninggal dunia kewajiban saudaranya adalah memandikan, mengkafani, menyolatkan dan mengantarkan jenazahnya ke kuburan.
من شهد الجنازة حتى يصلى عليها فله قيراط ومن شهدها حتى تدفن فله قيراطان قيل وما القيراطان ؟ قال مثل الجبلين العظيمين[3]
            Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang mengikuti jenazah hingga dishalatkan maka baginya (pahala) satu qiroth. Dan barang siapa mengikutinya sampai dikuburkan maka baginya (pahala) dua qiroth, kemudian beliau ditanya, satu dua qirath itu seperti apa?. Beliau menjawab, seperti dua gunung besar.
4.    Memenuhi undangannya
             Menurut Sayyid Sabiq, hukum memenuhi undangan walimah ‘urs adalah wajib. Karena dengan kehadiran kita dalam suatu walimah menunjukkan adanya ihtimam (perhatian) kita terhadap yang mengundang. Selain itu juga, akan menimbulkan kesenangan tersendiri dalam hati orang yang mengundang. Akan tetapi jika undangan tersbut sifatnya umum, dan tidak dikhususkan pada orang tertentu, maka mendatanginya tidak wajib dan tidak pula disunnahkan[4]
            Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
            Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
من دعي إلى وليمة فلم يجب فقد عصى الله ورسوله[5]
“Dan barang siapa yang tidak menghadiri undangan, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasulnya”.
5.    Mendoakan Ketika Bersin
            Ketika ada saudara kita yang bersin dan dia mengucapkan “alhamdulillah”,  maka hendaknya kita sebagai muslim untuk mendoakannya supaya mendapatkan rahmat dari Allah SWT dengan mengucapkan “yarhamukallah” (semoga Allah SWT merahmatimu).
Akan tetapi, jika ia tidak mengucapkan “alhamdulillah” ketika bersin, maka tidak dianjurkan untuk menjawabnya dengan mngucapkan “yarhamukallah”.
            Dari Abu Musa ra. berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:
إذا عطس أحدكم فحمد الله فشمتوه فإن لم يحمد الله فلا تشمتوه[6]
“Jika salah seorang di antara kalian bersin, kemudian memuji Allah (dengan mengucapkan alhamdulillah), maka balaslah dia (dengan mengucapkan yarhamukallah). Akan tetapi jika tidak memuji Allah maka janganlah engkau membalasnya”.
            Itulah hak-hak dan kewajiban dalam bersaudara yang telah disebutkan oleh hadits Nabi. Sedangkan Al-Ghazali mengatakan, ada beberapa pesan beliau tentang kewajiban yang seharusnya dipenuhi dalam bersahabat, yaitu:
1.    Membantu keuangan sahabat meskipun engkau lebih membutuhkannya. Jika tak mungkin, bantulah sahabatmu dengan kelebihan kekayaanmu ketika ia membutuhkan. Membantunya segera sebelum ia meminta bantuanmu.
2.    Menyembunyikan rahasia-rahasia dan aibnya.
3.    Tidak menyampaikan cercaan orang kepadanya, sehingga dengan demikian ia menjadi sedih. Tapi sampaikanlah kepadanya pujian orang terhadapnya agar dia merasa senang dan bahagia.
4.    Mendengarkan dengan penuh perhatian apabila ia berbicara.
5.    Memanggilnya dengan panggilan yang disenanginya, memuji kebajikan-kebajikannya dan berterima kasih atas kebaikannya.
6.    Membelanya ketika ia jauh dari dirimu, seperti engkau membela dirinya sendiri ketika ada yang mencercamu.
7.    Menegur dan menasehatinya dengan baik apabila ia salah.
8.    Memaafkan kesalahan-kesalahannya dan tidak menyalahkannya.
9.    Mendoakannya baik di kala masih hidup atau telah wafat.
10. Menjaga istri dan kerabatnya sepeninggalnya.
11. Memilihkan hal-hal yang menyenangkan baginya.
12. Menyenangkan hatinya dengan cara menghilankan hal-hal yng membuatnya sedih.
13. Menunjukkan rasa senang ketika ia senang, menunjukkan rasa sedih ketika ia sedih.
14. Memberi salam terlebih dahulu ketika bertemu dengannya. Menyambutnya ketika ia mendatangimu. Intinya menurut beliau adalah bersikaplah terhadap sahabatmu sebagaimana engkau bersikap terhadap dirimu sendiri.[7]


[1] Muhammad bin Hibban  bin Ahmad Abu Hatim At-Tamimi, Shohih Ibnu Hibban Bitartib Ibnu Balban Vol. 1, (Beirut: Muassasah Al-Risalah, 1993), hadits no. 241/hal.476
[2] Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 86
[3] Muslim bin Al-Hajjaj Abul Husain Al-Qusyairy , Shahih Muslim Vol. 2, (Beirut: Dar Ihya’ Turats Al-Arabi), hadits no. 945/hal. 652 
[4] Ibid, hal. 202
[5] Abul Qosim Sulaiman bin Ahmad At-Thabrani, Mu’jamul Ausath Vol. 7, (Qohirah: Dar Al-Haramain, 1415H), hadits no. 7505/hal. 284.
[6] Muslim bin Al-Hajjaj Abul Husain Al-Qusyairy , Op.Cit.,Vol. 4,  hadits no. 2992/hal. 2292
[7] Al-Ghazali, Menjelang Hidayah, terjemah Al-Bidayatul Hidayah, (Bandung: Mizan, 1992), hal. 134-135