Rabu, 01 Agustus 2012

Jalan Terjal Menuju Kebahagiaan Hidup


Dimuat di Koran Jakarta, 14 Juli 2012

Semua yang ada di sekitar lingkungan bisa menjadi pelajaran berharga, termasuk novel. Novel yang baik dan menarik bisa membuat orang menangis terharu, tersenyum sendiri, tobat, bahkan mampu membakar semangat seseorang. Itulah novel Bunga-Bunga Kertas ini.

Dalam novel sederhana ini, terdapat pelajaran hidup yang sangat berharga. Ceritanya mengandung banyak nilai inspiratif untuk membangkitkan semangat hidup setelah mengalami "luka" yang dalam. Bisa dipastikan bahwa setiap orang pernah tidak disenangi yang membuatnya resah dan gelisah, bahkan frustrasi. Yang paling parah ialah mengakhiri hidupnya dengan tragis alias bunuh diri karena tak mampu mengatasi kesulitan hidup.

Novel Khusnul Khotimah ini mengandung pelajaran berharga cara menyembuhkan luka dan derita tersebut serta membalikkannya menjadi sebuah kebahagiaan. Ada tiga pesan utama yang bisa menyembuhkan kesedihan, yaitu cinta, ketegaran, dan kesabaran (hlm 283).

Hal ini terlukis dalam kisah Bunga -nama tokoh utama- novel ini yang mengalami penderitaan luar biasa sehingga hampir putus asa. Keadaan itu lalu dilukiskan dalam judul novel ini Bunga-Bunga Kertas, yang berarti walaupun tampak indah, kenyataannya bukanlah bunga sungguhan yang bisa memberi keharuman. Dalam kondisi demikian, datanglah cinta yang tumbuh di antara Bunga dan seorang pria yang kemudian menikahinya. Kehadirannya membuat semua berubah dan dia tegar kembali. Pada akhirnya dia bahagia.

Alkisah, bermula ketika kekaguman Bunga terhadap sosok ayahnya menguap dan berubah menjadi kebencian karena mendengar niat ayah untuk menikahi tante Siska, teman lamanya. Ia pun memilih pergi untuk meninggalkan rumah. Nahas, niatnya untuk menenangkan diri justru mendatangkan masalah baru. Ia diperkosa Ardi, pria yang sudah beristri. Bunga kemudian harus menikah paksa secara kontrak dengan Ardi (hlm 119-123).

Belum kering luka hatinya, wanita berusia 19 tahun itu harus kembali menahan perih ketika mendapat kabar bahwa ibunya meninggal. Ia pun terpaksa menyaksikan pernikahan ayahnya dengan tante Siska seorang diri. Kehamilan dan pernikahan paksanya dengan Ardi membuat Bunga memutuskan untuk meninggalkan rumah lagi. Kali ini, ia bertekad memulai hidupnya sendiri bersama calon anaknya.

Namun, masalah sepertinya tak henti mengejar Bunga. Luka hatinya kembali tergores ketika mengetahui ayahnya hilang ingatan akibat kecelakaan. Akhirnya tante Siska menguasai seluruh harta keluarganya. Di tengah keterpurukannya, seorang pria bernama Azwar datang mengulurkan tangan dengan seulas senyuman hangat, menariknya kembali untuk berdiri tegak menatap masa depan.

Azwar adalah kakak teman lamanya, Nabilla. Bunga mengenalnya lewat Nabilla. Bunga kemudian menikah dengan Azwar, kemudian Bunga mampu bertahan dan tegar menghadapi masalah. Akhir cerita, Bunga mampu meraih cita-citanya untuk kuliah di kedokteran. Ini adalah kebahagiaan yang tak terhingga baginya setelah mengalami hantaman banyak masalah (hlm 286).

Pada intinya, buku setebal 308 halaman ini berpesan untuk mencapai kebahagiaan harus melalui berbagai macam ujian. Jika manusia tabah dan tegar menghadapi ujian itu, kemungkinan besar akan berakhir bahagia. Agar bisa tabah dan tegar, diperlukan cinta sebagai pendorong menggerakkan pikiran dan langkah ke arah yang positif.

Diresensi Rahmah Farihatus Sholihah, Penikmat buku

Judul buku : Bunga-Bunga Kertas
Penulis : Khusnul Khotimah
Penerbit : Safirah
Cetakan : I, Juni 2012
Tebal : 308 halaman

“Gelombang Ketiga” dalam Islamisasi Nusantara


Judul buku        : Cheng Ho; Penyebar Islam dari China ke Nusantara
Penulis              : Tan Ta Sen
Penerbit            : Buku Kompas
Cetakan I         : Juni 2010
Tebal                : xxii+460 halaman
ISBN               : 978-979-709-492-8

Dalam buku ini Tan Ta Sen berusaha meneguhkan teori “gelombang ketiga” dalam sejarah penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara. Setelah berlangsungnya dua gelombang pengaruh Islam yang datang melalui jalur perdagangan dari Gujarat (India) dan Timur Tengah, kemudian terjadi pula “Gelombang Cina” yang juga merupakan arus besar penyebaran Islam ke Asia Tenggara, termasuk kepulauan Nusantara.
Tokoh Cina yang melakukan penyebaran Islam di Nusantara adalah laksamana Cheng Ho. Dialah laksamana laut muslim pada Dinasti Ming (1368-1644) yang selama 27 tahun (1405-1433) telah memimpin tujuh pelayaran ke selatan dan mengunjungi banyak negara serta wilayah. Tokoh yang setia menemani Cheng Ho di tiga dari tujuh pelayaran yang dilakukannya adalah Ma Huan. Ia mencatat banyak hal dari pelayaran Cheng Ho. Bahkan tulisannya dijadikan sebuah jurnal yang diberi judul Yiangyai Shnglan.
Ma Huan menulis, bahwa Cheng Ho telah lima kali mengunjungi Nusantara dan singgah di Sumatera dan Jawa. Lokasi di kedua pulau yang dikunjunginya  antara lain Samudera Pasai (Aceh sekarang), Palembang, Semarang dan Cirebon. Cheng Ho bukan hanya memamerkan keperkasaan militer kaisar dinasti Ming, menunjukkan keluhuran kebudayaan Cina, dan menata kembali hubungan militer yang terputus dengan negara-negara di wilayah selatan menjelang runtuhnya Dinasti Mongol. Akan tetapi Cheng Ho juga berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di berbagai kawasan yang dikunjunginya itu.
Ekspedisi-ekspedisi Cheng Ho ke kepulauan Melayu menemukan sejumlah pemukiman orang Cina di jawa dan Sumatera. Hal demikian mengandung nilai sejarah yang sangat penting, baik dalam sejarah Cina maupun Asia Tenggara. Itu memberikan dimensi politik budaya baru dan perspektif baru dalam bagi misi-misi diplomasi dan perdagangan Cheng Ho. Hal ini memiliki dampak langsung pada masyarakat Cina perantauan di Indonesia dan juga terhadap penyebaran Islam di Jawa melalui orang muslim Cina di sana. (hal. 254)

Kontak Budaya
Buku yang ditulis oleh Presiden Internasional Zheng He Society dan juag Direktur Cheng Ho Museum Cultural Museum Malaka ini menghadirkan bukti-bukti sejarah yang menguatkan teori “gelombang ketiga” itu.  Cheng Ho telah meninggalkan warisan abadi berupa pertukaran budaya lintas-benua antara Timur dan Barat.
Ekspedisi-ekspedisnya telah memperluas dan memperdalam kontak budaya antar budaya serta intra regional di Asia. Sejumlah besar  laporan tangan pertama tentang misi-misi Cheng Ho tersedia dalam kronik-kronik Cina, Jepang, dan Jawa yang menekankan pentingnya ekspedisi-ekspedisi itu, dan membangkitkan perhatian luar biasa di berbagai penjuru Asia.
Cheng Ho ahli dalam memperbaharui dan membangun masjid dan kelenteng-kelenteng. Dia yang bertanggung jawab atas rekontruksi Pagoda Opaque dan Kuil Da Baoan Budhis di Nanjing, renovasi masjid Jingjue di Nanjing, masjid Qinjing di Xian dan kelenteng Mazu di Quanzhou. Cheng Ho membangun banyak masjid di Semarang, Ancol, Tuban Gresik, Cirebon, dan lain-lain untuk menumbuhkan komunitas-komunitas Cina muslim madzhab Hanafi di Jawa. Meskipun masjid-masjid kuno yang dibangun Cheng Ho di Jawa itu mungkin telah hancur dan direnovasi, karya-karya yang dirintisnya pasti mempengaruhi para perancang dan pengembang berikutnya. Sebab itu, bekas-bekas pengaruh arsitektur Cina pada bangunan-bangunan religius lokal di tempat-tempat yang pernah dikunjungi Cheng Ho masih tampak jelas. (hal.280)
Buku ini mempunyai dua ciri khas yang membedakannya dengan buku atau artikel yang pernah terbit di negeri ini mengenai peraan Cheng Ho dalam proses islamisasi di Nusantara. Pertama, ia telah memperkuat asumsi tentang adanya arus Cina dalam proses islamisasi di Asia Tenggara, khususnya di Kepulauan Nusantara dengan didasarkan kepada bukti-bukti yang dapat diterima secara ilmiah.
Kekuatan buku utama dari buku yang berasal dari disertasi yang dipertahankan di hadapan dewan penguji Universitas Indonesia ini, terletak pada pembacaan atas naskah-naskah kuno yang ditinggalkan oleh dinasti yang pernah memerintah daratan Tiongkok, khususnya kekaisaran Ming. Di antara naskah-naskah kuno yang ditelusuri dan dikaji secara kritis oleh Tan Ta Sen adalah Mingshi (Sejarah Dinasti Ming), Mingshi Lu (Sejarah Sejati Dinasti Ming), Yingyai Shenglan, Xingxia Shenglan (Survei tentang Negara-Negara di Bawah Bintang), Xiyang Fanguozi (Catatan tentang Negara-Negara Asing) dan lain-lain.
Kedua, Tan Ta Sen telah memperkuat asumsi, dengan didasarkan pada penelitian atas bukti-bukti tertulis, mengenai adanya “arus ketiga” dalam proses penyebaran Islam di Indonesia. Selama ini mungkin kita baru mengenal tentang dua arus utama, yakni arus India (Gujarat) dan Arab.
Untuk memperkuat argumennya, Tan Ta Sen menghadirkan bukti-bukti berupa gambar-gambar bangunan bersejarah, seperti masjid-masjid berarsitektur Cina, batu-batu nisan, ornamen-ornamen Tam Sam Cai, dan keramik-keramik Dinasti Ming era Cheng Ho untuk wadah air suci di masjid-masjid tua Indonesia. Hal ini memberikan nilai tambah tersendiri bagi buku ini untuk memperkuat keabsahan ilmiahnya
.
*Peresensi adalah
Penikmat Buku dan Penggiat Kajian di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSiF) Unmuh Malang

Memanfaatkan Layanan Iklan Baris Sebagai “Mesin Rupiah”


Judul buku        : Bisnis, Iklan Baris Online, Cara Instan Gak Pake Pusing
Penulis              : Su Rahman
Penerbit            : PT Ekex Media Komputindo
Cetakan I         : 2012
Tebal                : 122 halaman
Peresensi          : Muhammad Rajab, Penikmat buku tinggal di Kota Malang
            Berbisnis secara online telah menjadi daya tarik masyarakat Indonesia pada dekade terakhir ini. Hal ini dikarenakan berbisnis semacam ini dapat menjangkau objek atau sasaran pasar global yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ia bisa diakses secara online kapan dan di mana saja asal ada jaringan internet.
            Bisnis online di Indonesia mulai menggeliat dan kian berkembang dengan bermunculnya provider-provider ISP yang memberikan tarif murah meriah untuk hosting online, yang berdampak pada aneka bentuk bisnis online meramaikan pasar bisnis internet Indonesia. Apapun bentuk bisnis online yang sedang marak atau sedang dikembangkan oleh pebisnis, satu kebutuhan mutlak bagi mereka adalah promosi.
            Di dalam buku ini ditegaskan bahwa hampir dari 90% bisnis online bergulung tikar karena tidak melakukan promosi dengan optimal. Promosi tidak dapat dipisahkan dari kesuksesan sebuah bisnis, jika bisnis ingin sukses, apapun bentuk bisnisnya, maka wajib hukumnya untuk melakukan promosi dengan optimal. Salah satu media promosi yang selalu dan terus akan dilirik oleh para pelaku bisnis online adalah layanan website iklan berbaris. Mengapa?, karena layanan website iklan berbaris ini gratis dan bisa dimanfaatkan untuk berpromosi atau membangun backlink. (hlm. 5)
            Layanan website iklan baris adalah  sebuah layanan yang selalu dipergunakan oleh para pebisnis online untuk mempromosikan produk atau jasa yang ditawakan lewat internet. Layanan iklan website baris ini adalah media promosi pertama yang dibidik oleh pengelola bisnis online, karena selain cepat dan efesien, rata-rata layanan website iklan baris ini diberikan secara percuma alias gratis.
            Melihat kondisi tersebut, banyak kemudian pebisnis online yang bermain sebagai pengelola website iklan baris, dan tak sedikit yang sukses mendulang rupiah dari layanan ini. Kesuksesan para pebisnis online itu sayangnya hanya bergelintir pada orang-orang yang benar-benar paham pengelolaan iklan baris tersebut.
            Permasalahannya adalah tidak sedikit masyarakat Indonesia yang telah melihat besarnya potensi promosi lewat iklan berbaris ini. Tetapi, mereka tidak paham bagaimana membuat, mengelola, serta mengoperasikan layanan website iklan baris ini. Inilah yang kemudian menjadi kendala untuk mencapai puncak kesuksesan bisnisnya tersebut.
            Buku yang ditulis oleh Su Rahman, seorang Founder dan CEO Cipta Karya Mandiri yang bergerak di bidang Web Design dan Internet Marketing sejak 1997 ini berupaya memberikan solusi atas permasalahan kesulitan di atas. Buku ini lahir atas keprihatinannya terhadap masyarakat Indonesia yang masih banyak buta akan internet, atau mungkin sudah bisa mengoperasikan internet tapi masih belum bisa melihat peluang bisnis lewat jasa layanan website iklan baris ini.
            Lewat buku sederhana ini Su Rahman ingin berbagi ilmu bagaimana cara mendapatkan uang melalui internet yakni dengan memanfaatkan layanan website iklan baris gratis. Pembahasan buku ini juga cukup simpel, mudah dibaca dan dipahami. Namun demikian, untuk mempermudah pembaca, penulis menambahkan gambar-gambar yang mendukung pembahsan isi buku. Walaupun sederhana, namun isinya sangat komplek, mulai dari cara membeli hosting dan domain, membuat layanan iklan garis, hingga mendulang uang dari iklan tersebut. Dengan demikian buku ini sudah selayaknya menjadi bahan bacaan dan panduan bagi para pebisnis online.

Perjalanan Cinta Si Toying yang Super Heboh


Dimuat di rimanews.com. 19/07/2012
Judul buku        : Ekspedisi Mencari Cewek Idaman
Penulis              : Dyah Ayu Kinanti, dkk.
Penerbit            : Diva Press
Cetakan I         : Juli 2012
Tebal                : 220 halaman
Peresensi         : Muhammad Rajab, Penikmat buku
            Sebuah cerita yang tertuang dalam novel maupun cerpen dapat membuat kesan tersemdiri bagi para pembaca. Membaca buku cerita sangat berbeda dengan membaca buku lain. Sebuah cerita yang baik dapat membuat pembacanya tersenyum sendiri, tertawa, bahkan menangis. Ini adalah kelebihan buku cerita seperti novel atau kumpulan cerpen.
            Buku Ekspedisi Mencari Cewek Idaman ini merupakan kumpulan cerpen komedi. Cerita yang ada di dalamnya merupakan pilihan dari lomba cerita gombal-lebai Diva Press. Dijamin semua yang membaca kumpulan cerpen gokil ini akan tersenyum dan tertawa. Kisahnya yang lucu dapat menyegarkan suasana yang tegang serta bisa menghilangkan kesuntukan. Walaupun lucu, cerita di dalamnya juga tidak luput dari nilai-nilai kehidupan
            Judul buku yang ada dalam cover buku setebal 220 halaman ini diambil dari salah satu judul cerpen yang ada di dalam buku. Judul ini berkisah tentang perjalanan cinta si Toying yang super heboh. Si Toying adalah pemuda desa sekaligus jaksa yang terkenal ganteng. Aneh bin ajaib, kegantengannya itu tidak bisa menjadi sebab ia mendapat cewek idaman. Ia sudah berusaha tujuh keliling sampai hampir 17 tahun belum pernah mendapatkan cewek.
            Oleh sebab itu, si Toying berguru kepada kakeknya yang terkenal sebagai si perayu maut. Pada zamannya kakek si Toying berhasil menggaet semua gadis wanita sebelum menikah dengan nenek si Toying. Dengan jurusnya si kakek menjamin cewek langsung klepek-klepek. Namun dengan syarat si Toying harus merayu cewek idamannya di tempat yang ada bunga mawar berjumlah seribu.
            Sejak saat itu, Toying, pemuda desa Klutung-Klutung, memulai ekspedisi, ia berkelana dari Sabang hingga Merauke untuk mencari cewek tambatan hati. Waktu terus berjalan, si Toying tetap berkelana. Sudah tiga kali puasa, tiga kali lebaran, ia habiskan dengan menghitung bunga mawar, namun hasilnya nol besar. Tidak ada satu tempat pun yang ada seribu bunga.
            Si Toying hampir frustasi. Kemudian ia pesan kakeknya yang sudah ia lupakan yaitu pencarian itu harus dilakukan sambil bernyanyi mirip orang gila di pinggir jalan. Ia lakukan syarat itu, di tengah-tengh pencariannya ia dilempari orang dengan botol mineral dan telur busuk. Setelah perjalannya yang panjang, Toying tibalah di sebuah tempat yang setelah dihitung di situ terdapat Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan bunga mawar. Akhirnya si Toying punya akal untuk mencarikan tambahan bunga mawar satu lagi untuk menyempurnakannya menjadi seribu. Setelah lengkap, ia beranjak ke tahap mencari cewek. (hlm. 9)
            Singkat cerita, si Toying bertemu dengan wanita anak kepala desa di dekat bukit yang terdapat 999 bunga mawar itu, namanya Azizah. Toying memulainya dengan menaklukkan hati ayahnya. Setelah tertaklukkan Toying beranjak untuk menaklukkan hati Azizah. Tak sabar ia membawanya ke tempat bunga tadi, yang pada akhirnya si Azizah bisa ditaklukkan dan jadilah pasangan yang lengket antara si Toying dan Azizah. (hlm. 17)
            Pesan dari cerita ini adalah hiduplah dengan cinta tapi jangan menjadi budak cinta. Hidup tanpa cinta bagaikan hidup di padang pasir. Semoga buku sederhana ini menjadi bahan penyegar di tengah-tengah kesibukan dan kepenatan kita. Tidak hanya cerita si Toying yang diceritakan di dalam buku ini, ada banyak cerita gokil lain yang bisa dinikmati. Selamat membaca!

“Membela” Tuhan, Menentang Ateisme dan Fundamentalisme


Dimuat di Rimanews.com, 22/06/2012
Judul buku        : Masa Depan Tuhan; Sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Ateisme
Penulis              : Karen Amstrong
Penerbit            : PT Mizan Pustaka
Cetakan I         : Mei 2011
Tebal                : 608 halaman
Persensi            : Muhammad Rajab, Penikmat Buku dan Penggiat Kajian di PSIF Unmuh Malang

Perbincangan seputar ketuhanan dan agama selalu menjadi topik menarik bagi kaum pemikir agama. Pembahasan tentangnya selalu hangat sepanjang masa. Karena Tuhan dan agama adalah satu kesatuan yang selalu mengiringi dan mendampingi perjalanan hidup manusia dari awal lahirnya manusia hingga akhir zaman nanti. 
Setelah melacak persepsi manusia tentang Sang Pencipta dalam buku Sejarah Tuhan, kini Karen Amstrong mengkaji masa depannya. Dalam buku ini, Karen Amstrong menunjukkan pembelaan terhadap Tuhan dan agama menentang fundamentalisme dan ateisme.
Di berbagai penjuru dunia, agama sedang mengalami kebangkitan. Dampaknya dapat terasa di berbagai aspek seprti politik, sosial, dan ekonomi. Namun, pada saat yang sama, skeptisisme dan nihilisme terhadap Tuhan dan agama pun terasa meningkat sebagai respon atas perkembangan tersebut. Dalam buku ini Karen Amtrong tampil lebih tegas mendukung agama dari serangan bertubi-tubi  fundamentalisme maupun pemikir ateisme semacam Richard Dawkins, Cristopher Hitchens, dan Sam Harris.
            Pada bagian pertama buku Masa Depan Tuhan ini, mantan Biarawati ini mencoba menunjukkan bagaimana orang-orang berpikir tentang Tuhan di dunia pramodern dengan cara member kejelasan tentang beberapa isu yang kini dirasa orang-orang bermasalah –kitab suci, inspirasi, penciptaan, mukjizat,  wahyu, iman, kepercayaan, dan misteri– dan juga menunjukkan bagaimana agama menjadi kacau.
            Sedangkan pada bagian kedua buku ini Amtrong berusaha menelusuri kebangkitan “Tuhan modern”, yang menggulingkan begitu banyak persangkaan agama tradisional. Akan tetapi di dalam buku ini penulis menegaskan bahwa ia akan menitikberatkan uraiannya pada Kristen, sebab itu merupakan tradisi yang paling terkena dampak bangkitnya modernitas ilmiyah dan juga yang dihantam pukulan keras dari serangan ateistik baru. (hlm. 23) Lebih jauh ia menekankan pada tema dan tradisi yang berbicara secara langsung tentang masalah-masalah religious kontemporer kita.
            Menurut Amtrong, agama itu kompleks; dalam setiap zaman itu terdapat sejumlah aliran kesalehan. Tidak ada satu kecenderungan yang pernah berlaku sepanjang zaman. Orang mengamalkan agama mereka dalam beraneka ragam cara yang berbeda dan kontradiktif. Tetapi sikap diam yang khidmat dan berprinsip mengenai Tuhan dan atau yang suci merupakan tema yang konstan tidak hanya dalam kekristenan, tetapi juga dalam tradisi iman besar lainnya sampai kebangkitan modernitas di Barat. (hlm. 23)
            Orang percaya bahwa Tuhan melampau pemikiran dan konsep kita dan hanya dapat diketahui melalui amalan yang tekun. Menurut Amtrong kita telah kehilangan wawasan tentang hal yang penting ini, dan dia yakin bahwa ini adalah salah satu alasan mengapa begitu banyak orang Barat mendapati begitu sukar konsep Tuhan belakangan ini. Oleh karena itu Amtrong memberikan perhatian khusus pada disiplin yang terabaikan ini dengan harapan akan member I perspektif baru tenga keadaan saat ini.
            Di dalam buku ini ditegaskan, bahwa walaupun begitu banyak orang yang bersikap bermusuhan pada agama, dunia saat ini tetap mengalami kebangkitan agama. Bertentangan dengan ramalan penuh keyakinan dari para sekularis pertengahan abad ke-20, agama tidak akan lenyap. Tetapi jika ia tenggelam ke dalam sikap kekerasan dan tidak toleran yang selalu melekat tidak hanya dalam monoteisme, tetapi juga dalam etos ilmiah modern, religiusitas baru ini akan menjadi “tidak terampil”. (hlm. 24)
            Pendek kata, lewat buku setebal 608 ini Amtrong ingin menyadarkan kepada umat manusia bahwa keberadaan Tuhan dan agama merupakan sesuatu yang harus diyakini secara komprehensif. Tidak hanya terampil dalam rumah-rumah ibadah, tapi betul-betul nampak dalam konteks kehidupan sosial masyarakat untuk menebarkan perdamaian di tengah-tengah mereka. Selain itu, penulis lewat buku ini juga telah membuktikan bahwa ateisme benar-benar telah meleburkan diri pada nihilisme belaka.

Misteri di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul


Dimuat di Rimanews.com, 17/06/2012
Judul buku        : Konspirasi di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul
Penulis              : Julius Pour
Penerbit            : Buku Kompas
Cetakan           : 2011
Tebal                : 290 halaman
Peresensi          : Muhammad Rajab*

            Insiden  di tengah Laut Arafuru Maluku yang lantas populer sebagai peristiwa tenggelamnya Kapal Repubilk Indonesia (KRI) Matjan Tutul mengait beragam persoalan dengan latar belakang yang sangat luas.  Lebih dari sekedar amburadul-nya jalur komando dalam Angkatan Bersenjata pada waktu itu, tetapi juga karena pemimpin politik ternyata sering mendesakkan kebijakan pribadi, yang bisa saja justru memotong rencana taktis dan teknis dari pemimpin militer.
Pertempuran yang berlangsung 15 Janari 1962 itu berakhir dengan sangat mengenaskan. KRI Matjan Tutul, KRI Matjan Kumbang, dan KRI Harimau terpaksa menghadapi tiga kapal perang Belanda yang jauh lebih besar dan perkasa; Eversten, Kortenaer, dan Utrecht. KRI Matjan Tutul yang ditumpangi Komodor Jos Soedarso dibombardir oleh armada laut Belanda yang didukung pesawat terbang Neptune dan Firefly. Hal inilah yang menyebabkan tenggelamnya KRI Mactjan Tutul, berikut gugurnya Komodor Josaphat (Jos) Soedarso bersama 28 anak buahnya secara kesatrian dan gagah berani, sementra dua kapal lainnya selamat. Menurut catatan Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, KRI Matjan Tutul tenggelam pukul 21.40 waktu setempat, pada lokasi 04.49 00 selatan-135.02 00 S. (hlm. 157)
Menurut kesaksian Kelasi Njoman Toja – seorang saksi mata –, bahwa sebelum Matjan Tutul tenggelam, Njoman melihat Komodor Jos segera mengambil corong radio serta memberi perintah, “kobarkan semangat pertempuran.” Setelah perintah tersebut keluar , kapal segera diamuk api, lidah api menjilat ke semua arah. Komodor Jos berusaha merayap, masuk ke ruang komando dan tidak pernah keluar lagi, karena kemudian terjadi ledakan dahsyat. Sebuah api raksasa langsung memancar, dan Matjan Tutul sudah mulai terlihat miring yang akhirnya kemudian tenggelam. (hlm. 156)
Berdasarkan catatan dalam buku ini, sebenarnya Ketiga kapal perang RI dan awaknya itu tidak disiapkan untuk menghadapi kemungkinan pertempuran. Operasi infiltrasi ke Irian Barat oleh Angkatan Laut RI adalah sebuah misi rahasia. Karenanya, aksi Satuan Tugas Chusus atau STC-9 di bawah komando Kolonel (Laut) Sudomo itu sengaja dilakukan diam-diam, di tengah malam buta.
Namun, kenapa armada kapal perang Belanda tiba-tiba muncul mencegat, membuat pertempuran laut di tengah malam itu tak bisa dihindari?. Penjelasan paling logis, informasi rencana operasi rahasia itu bocor, sehingga AL Belanda bisa mengendus rencana infiltrasi ini. Mungkin ada benarnya sinyalemen yang disampaikan Komandan Kontingen Indonesia Kolonel Soedarto, ”…ada pengkhianatan tingkat tinggi.”
Buku yang ditulis oleh Julius Pour ini mengungkap berbagai misteri di sekitar pertempuran Laut Arafuru, termasuk soal tokoh yang disebut-sebut sebagai pengkhianat. Apa alasan Komodor Jos Soedarso ikut serta dalam operasi taktis itu? Apa peran Kolonel (Udara) Omar Dani? Apa pula peran Deputi Operasi Kepala Staf Angkatan Udaran (KSAU) dan Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel Moersjid dalam STC-9?. Semua itu adalah misteri. Untuk itu dengan bahasa yang mengalir buku ini memberikan beberapa gambaran yang mengalir untuk membantu menemukan jawaban misteri tersebut.
*Peresensi adalah
Muhammad Rajab, Penikmat buku tinggal di Malang

Pelajaran Cinta dalam Novel Super Kocak


Judul buku        : The Prince of Blangkon; Pangeran Jomblo yang Nggak Bisa Ilmu Sihir
Penulis              : Endik Koeswoyo
Penerbit            : Diva Press
Cetakan I         : Januari 2012
Tebal                : 288 halaman
Peresensi         : Muhammad Rajab, Pencinta buku
            Novel The Prince of Blangkon ini sangat kocak dan gokil. Tak hanya ceritanya yang lucu, tapi juga bahasanya yang “lebai” membuat kita akan senyum-senyum sendiri saat membaca buku ini. Inilah keajaiban karya fiksi bernama novel. Dalam novel penulis bisa melanglangbuana dalam hayal yang jauh bahkan mungkin mustahil terjadi dalam kehidupan nyata. Namun demikian tetap tidak kehilangan amanat yang terselip di dalamnya.
            Novel karya Endik Koeswoyo ini memang sarat dengan ajakan untuk tertawa. Tulisan fiksi yang sudah muncul dari hasil karyanya semisal  Ekspedisi Mencari Cinta, Catatan Jomblo Galau, dan Ajaibnya Cewek, juga sangat kocak. Maka tak salah kalau Renni Fernandes, salah seorang sutradara video klip, dalam komentar buku ini mengatakan bahwa novel ini sangat lucu dan bikin cengar-cengir ­sendiri.
            Novel setebal 288 ini berkisah tentang pencarian cinta sejati, dibalut dengan persahabatan yang konyol. Pangeran Semur Jasa adalah pengeran dari Negeri Timur yang masih jomblo. Dengan didampingi oleh pengawal setianya bernama Premadana, Pangeran Semur mengikuti sayembara untuk menemukan Putri Permata Hati, putrid dari Kota Tengah.
            Karena tidak memiliki ilmu sihir seperti kebanyakan pemuda di pulau tukis, ia pun hampir kalah saing dengan Pangeran Gura Manis dari Kota Barat. Akhirnya, Pangeran Semur berniat mencari kunci rahasia untuk mengaktifkan ilmu-ilmu sihir yang ada di benda-benda kesayangannya.
            Dengan membawa keris, blangkon, dan selendang sutera, Pangeran Semur ditemani Premadana menembus keangkeran Pulau Kentut Kuda untuk menemui seorang oden (guru sihir). Tentu saja buah kerja kerasnya sangat membahagiakan alias dia juga berhasil menemukan Putri Permata Hati. Masalahnya, sejak pandangan pertama ternyata Premadana telah jatuh cinta kepada Putri Permata Hati.
            Singkat cerita, Premadana yang pada mulanya tidak berniat untuk mendapatkan Putri Permata Hati malah ia yang menemukan dan mendapatkan Putri Permata Hati. Sementara Pangeran Semur mengalami nasib yang tidak baik. Ia tidak bisa mendapatkannya, padahal dari awal sangat ambisius untuk mendapatkannya.
            Pada intinya, walaupun novel ini super kocak, namun ada pesan berharga yang bisa kita petik darinya, yakni bahwa cinta sejati tidak pernah melihat harta dan kedudukan. Bayangkan seorang putri bisa jatuh cinta kepada seorang pengawal raja yang tidak punya banyak harta juga tak berpangkat tinggi. Maka tak salah juga jika ada orang yang mengatakan, kalau jodoh tidak akan kemana. Selamat membaca….!