Kamis, 09 Agustus 2012

Keutamaan Menghafal al-Quran

Oleh: Muhammad Rajab*
Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Dzikra (al-Quran), dan Kami-lah yang akan menjaganya. (QS. Al-Hijr: 9).
            Potongan ayat di atas adalah janji Allah SWT untuk menjaga keautentikan dan keaslian al-Quran. Kemudian Allah SWT betul-betul menjaga al-Quran tersebut melalui lisan para hafidul quran (penghafal al-Quran). Terbukti ketika di awal-awalz datangnya Islam, al-Quran tercecer di pelepah kurma, bebatuan dan kemudian dikumpulkan menjadi satu mushaf melalui para penghafal al-Quran.
            Untuk itulah Allah SWT memberi penghargaan yang mulia kepada mereka dengan menyebut para penghafal al-Quran sebagai ahlullah (keluarga Allah). Artinya kedekatan Allah dengan para penghafal al-Quran lebih dibandingkan dengan yang lainnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, "Siapakah mereka ya Rasulullah?" Rasul menjawab, "Para ahli Al Qur'an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya." (HR. Ahmad)
            Rasulullah SAW juga telah memberikan penghargaan khusus bagi para penghafal al-Quran. Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal al-Qur'an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada’ Uhud yang hafizh Al Qur'an. Rasul mendahulukan pemakamannya. "Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, "Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur'an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat." (HR. Bukhari).
Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanah pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi. Dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah SAW telah mengutus sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada sahabat yang paling muda usianya, beliau bertanya, "Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,"Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah." Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?" Tanya Nabi lagi. Sahabat itu menjawab, "benar." Nabi bersabda, "Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi." (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa'i)
Selain itu, karena hafalannya juga maka para penghafal al-Quran adalah orang pertama yang berhak menjadi imam shalat berjama'ah. Rasulullah SAW bersabda: "Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya." (HR. Muslim)
Kemudian di akhirat kelak akan diperlakukan secara khusus. Bagi mereka akan dipakaikan mahkota kemuliaan. Mereka akan dipanggil, "Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?" Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Thabrani)
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa mereka akan selalu diberi rahmat dan rezeki  oleh Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS. Faathir: 29-30). Semoga kita dan keluarga kita termasuk orang-orang yang mau menghafal al-Quran. Amin….

*Penulis adalah Staf Pengajar al-Quran Unmuh Malang

Hak Seorang Muslim (Haqqul Muslim)


“Kebahagiaan Anda adalah ketika sifat-sifat baik yang ada dalam diri Anda bisa mengalahkan dan lebih menonjol dari pada yang buruk.” (Aidh Al-Qorni)

            Hidup antara sesama manusia mempunyai hak dan kewajiban. Orang lain mempunyai hak dan kewajiban atas kita. Begitu juga sebaliknya kita punya hak dan kewajiban atas orang lain. Hak dan kewajiban tersebut harus dipenuhi sebagai bukti kecintaan kita kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda:
حق المسلم على المسلم خمس : رد السلام وعيادة المريض واتباع الجنائز وإجابة الدعوة وتشميت العاطس[1]

“Hak seorang muslim terhdap muslim lainnnya ada lima, menjawab salam, menjenguknya ketika sakit, mengikuti jenazahnya, memenuhi undangannya (panggilannya), dan membalasnya ketika bersin (dengan mengucapkan ‘yarhamukallah’)”.
1.    Menjawab Salam
            Di antara hak dan kewajiban tersebut sebagaimana dalam hadits adalah menjawab salam. Adapun menyampaikan salam  hukumnya sunnah, sedangkan menjawabnya adalah wajib. Selain menjawab salam itu wajib, hal itu sebagai bukti balasan atas doa yang telah diberikan kepada kita. Maka seharusnyalah kita untuk membalas doa tersebut
Allah SWT berfirman:
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.”[2]
            Menjawab salam dalam arti yang lebih luas adalah menebarkan kedamaian kepada teman. 
2.    Menjenguknya Ketika Sakit
            Pernahkah Anda merasakan sakit?, Apa yang Anda rasakan saat Anda sakit ternyata tak ada seorang pun yang datang menjenguknya? Mungkin yang Anda rasakan saat itu adalah kesedihan dan kenestapaan. Oleh karena itu, Islam mengajarkan umatnya agar menjenguk orang sakit. Selain karena kewajiban, menjenguk teman yang sedang sakit akan memperkokoh tali persahabatan.
Pada suatu hari Rasulullah SAW pergi ke masjid, kemudian di tengah perjalanan beliau diludahi oleh salah seorang bangsa Quraisy. Hari kedua pun sama, Rasulullah diludahi orang yang sama. Hingga pada suatu hari Rasulullah lewat seperti semula di jalan yang biasa beliau lewati, namun tak ada lagi orang yang meludahi beliau.
Kemudian beliau bertanya kepada sahabatnya, ke mana orang yang sering meludahiku setiap aku hendak pergi ke masjid? Ternyata orang tersebut sakit, sehingga tidak dapat lagi meludahi Rasulullah SAW. Apa yang beliau lakukan saat itu?. Beliau langsung menjenguknya. Melihat Nabi menjenguknya akhirnya orang tersebut masuk Islam.
            Bisa kita bayangkan, orang telah berbuat kejam sekalipun harus kita jenguk ketika dia sakit. Demikianlah keramahan Islam yang ditawarkan. Maka dari itu, ketika ada sahabat kita yang sakit, jenguklah ia walaupun tidak membawa apa-apa. Hiburlah ia supaya dia senang dan tenang, doakan supaya dia cepat sembuh. Setidak-tidaknya, kedatangan kita akan meringankan beban sikologinya.
3.    Mengantarkan Jenazahnya
Sebagai salah satu penghormatan kita terhadap saudara kita adalah mengantarkan jenazahnya apabila sahabat dan saudara kita meninggal dunia. Dan hal ini juga sudah merupakan kewajiban oleh seorang muslim. Jadi ketika ada orang muslim yang meninggal dunia kewajiban saudaranya adalah memandikan, mengkafani, menyolatkan dan mengantarkan jenazahnya ke kuburan.
من شهد الجنازة حتى يصلى عليها فله قيراط ومن شهدها حتى تدفن فله قيراطان قيل وما القيراطان ؟ قال مثل الجبلين العظيمين[3]
            Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang mengikuti jenazah hingga dishalatkan maka baginya (pahala) satu qiroth. Dan barang siapa mengikutinya sampai dikuburkan maka baginya (pahala) dua qiroth, kemudian beliau ditanya, satu dua qirath itu seperti apa?. Beliau menjawab, seperti dua gunung besar.
4.    Memenuhi undangannya
             Menurut Sayyid Sabiq, hukum memenuhi undangan walimah ‘urs adalah wajib. Karena dengan kehadiran kita dalam suatu walimah menunjukkan adanya ihtimam (perhatian) kita terhadap yang mengundang. Selain itu juga, akan menimbulkan kesenangan tersendiri dalam hati orang yang mengundang. Akan tetapi jika undangan tersbut sifatnya umum, dan tidak dikhususkan pada orang tertentu, maka mendatanginya tidak wajib dan tidak pula disunnahkan[4]
            Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
            Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
من دعي إلى وليمة فلم يجب فقد عصى الله ورسوله[5]
“Dan barang siapa yang tidak menghadiri undangan, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasulnya”.
5.    Mendoakan Ketika Bersin
            Ketika ada saudara kita yang bersin dan dia mengucapkan “alhamdulillah”,  maka hendaknya kita sebagai muslim untuk mendoakannya supaya mendapatkan rahmat dari Allah SWT dengan mengucapkan “yarhamukallah” (semoga Allah SWT merahmatimu).
Akan tetapi, jika ia tidak mengucapkan “alhamdulillah” ketika bersin, maka tidak dianjurkan untuk menjawabnya dengan mngucapkan “yarhamukallah”.
            Dari Abu Musa ra. berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:
إذا عطس أحدكم فحمد الله فشمتوه فإن لم يحمد الله فلا تشمتوه[6]
“Jika salah seorang di antara kalian bersin, kemudian memuji Allah (dengan mengucapkan alhamdulillah), maka balaslah dia (dengan mengucapkan yarhamukallah). Akan tetapi jika tidak memuji Allah maka janganlah engkau membalasnya”.
            Itulah hak-hak dan kewajiban dalam bersaudara yang telah disebutkan oleh hadits Nabi. Sedangkan Al-Ghazali mengatakan, ada beberapa pesan beliau tentang kewajiban yang seharusnya dipenuhi dalam bersahabat, yaitu:
1.    Membantu keuangan sahabat meskipun engkau lebih membutuhkannya. Jika tak mungkin, bantulah sahabatmu dengan kelebihan kekayaanmu ketika ia membutuhkan. Membantunya segera sebelum ia meminta bantuanmu.
2.    Menyembunyikan rahasia-rahasia dan aibnya.
3.    Tidak menyampaikan cercaan orang kepadanya, sehingga dengan demikian ia menjadi sedih. Tapi sampaikanlah kepadanya pujian orang terhadapnya agar dia merasa senang dan bahagia.
4.    Mendengarkan dengan penuh perhatian apabila ia berbicara.
5.    Memanggilnya dengan panggilan yang disenanginya, memuji kebajikan-kebajikannya dan berterima kasih atas kebaikannya.
6.    Membelanya ketika ia jauh dari dirimu, seperti engkau membela dirinya sendiri ketika ada yang mencercamu.
7.    Menegur dan menasehatinya dengan baik apabila ia salah.
8.    Memaafkan kesalahan-kesalahannya dan tidak menyalahkannya.
9.    Mendoakannya baik di kala masih hidup atau telah wafat.
10. Menjaga istri dan kerabatnya sepeninggalnya.
11. Memilihkan hal-hal yang menyenangkan baginya.
12. Menyenangkan hatinya dengan cara menghilankan hal-hal yng membuatnya sedih.
13. Menunjukkan rasa senang ketika ia senang, menunjukkan rasa sedih ketika ia sedih.
14. Memberi salam terlebih dahulu ketika bertemu dengannya. Menyambutnya ketika ia mendatangimu. Intinya menurut beliau adalah bersikaplah terhadap sahabatmu sebagaimana engkau bersikap terhadap dirimu sendiri.[7]


[1] Muhammad bin Hibban  bin Ahmad Abu Hatim At-Tamimi, Shohih Ibnu Hibban Bitartib Ibnu Balban Vol. 1, (Beirut: Muassasah Al-Risalah, 1993), hadits no. 241/hal.476
[2] Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 86
[3] Muslim bin Al-Hajjaj Abul Husain Al-Qusyairy , Shahih Muslim Vol. 2, (Beirut: Dar Ihya’ Turats Al-Arabi), hadits no. 945/hal. 652 
[4] Ibid, hal. 202
[5] Abul Qosim Sulaiman bin Ahmad At-Thabrani, Mu’jamul Ausath Vol. 7, (Qohirah: Dar Al-Haramain, 1415H), hadits no. 7505/hal. 284.
[6] Muslim bin Al-Hajjaj Abul Husain Al-Qusyairy , Op.Cit.,Vol. 4,  hadits no. 2992/hal. 2292
[7] Al-Ghazali, Menjelang Hidayah, terjemah Al-Bidayatul Hidayah, (Bandung: Mizan, 1992), hal. 134-135

CATATAN KRITIS SEORANG AKTIVIS

Judul buku        : Soe Hok-Gie….Sekali Lagi
Editor               : Rudi Badil
Penerbit            : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan I         : Desember 2009
Tebal                : 512 halaman
Peresensi          : Muhammad Rajab*
            Soe Hok-Gie adalah seorang cendekiawan muda yang hidup di masa Orde Lama. Dialah yang meneruskan karakter independensi para cendekia lama. Pikirannya bak air bah yang tak terbendung . Semuanya mengalir bebas tanpa pernah menenguk berbagai batasan, baik politik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Saat dia masih remaja canggung misalnya, dia sudah menunjukkan independensi melalui tulisan yang cukup berani untuk pemuda seusianya. Dia mengkritik kesenjangan ekonomi yang semakin lebar pada masa Orde Lama. Gie kesal dengan perilaku para pemimpin saat itu.
            Gie memang sosok yang keras baik dalam sikap intelektual dan politik. Hal itu tidak dapat dilepaskan dari petualangan intelektual yang dilakukan secara otodidak. Buku-buku dari hasil pujangga dunia mulai dari Albert Camus sampai Paramoedya Ananta Toer habis dilahapnya. Surat kabar kritis seperti Indonesia Raya dan Pedoman pun menjadi sarapan paginya.
            Aktivis yang meninggal di puncak Semeru ini pun semakin tertarik masuk dalam pusaran politik Republik. Posisi politik Gie sangat jelas yakni demokrasi. Hal tersebut ditunjukkan dalam sikap kritisnya terhadap rezim Orde Lama yang membungkam kebebasan ekspresi secara semena-mena. Pembelaan politik Gie terhadap demokrasi  demikian kuat bahkan terhadap posisi ideologis yang memiliki persoalan dengan demokrasi.
            Selain seorang pemikir  Gie juga adalah seorang aktivis, man in the action. Selain gelisah dan terus menggugat Gie adalah seorang demonstran. Dia aktivis angkatan 66, arsitek Long March mahasiswa dari Rawamangun  ke Salemba yang menuntut harga bensin turun. Dia jarang pulang ke rumah di Kebun Jeruk. Hampir seluruh waktunya ada di kampus atau di jalan. Di kampus selain mengikuti kuliah, juga merencanakan, mengorganisasi demonstrasi dan menghimpun kekuatan.
            Dalam buku yang diedit oleh Rudy Badil ini dicantumkan beberapa catatan kritis Gie terhadap pemerintah yang pernah dimuat di beberapa media atau koran saat itu. Salah satunya adalah tulisan yang berjudul, ‘Orang-orang Indonesia di Amerika Serikat’, dimuat di Koran Sinar Harapan (13/03/1969). Dalam tulisannya ia mengkritik kebiasaan para pembesar Indonesia di Amerika Serikat. Dia menulis guyonan salah seorang temannya yang bertanya kepadanya, “Soe kamu mau naik kuda putih?” teman itu tertawa terbahak-bahak. Pasalnya, dahulu kalau pembesar-pembesar Indonesia datang ke Amerika Serikat mereka selalu mencari “kuda putih”. Mumpung di Amerika mereka mau merasakan nikmatnya menunggangi “kuda putih”. Dan mereka selalu mencari orang Indonesia yang tahu keadaan setempat. (hal. 496)
            Catatan lainnya yang daya kritisnya lebih dalam lagi adalah ‘Pelacuran Intelektual’. Saat itu kebebasan untuk berpendapat sangat dikekang. Pemikir-pemikir Indonesia kemudian dihadapkan pada keadaan yang sangat buruk sehingga mereka dituntut untuk mengambil sikap dalam menghadapi situasi pemerintahan saat itu.
            Pada intinya, buku ini merupakan sebuah kesaksian tentang catatan kritis seorang aktivis yang hidup di masa Orde Lama. Buku ini sangat layak dibaca oleh mahasiswa dan masyarakat luas, khususnya bagi mereka yang ingin benar-benar menjadi aktivis yang ingin mempunyai idealisme yang kuat.

DINAMIKA HUBUNGAN INDONESIA MALAYSIA


Judul buku        : Malaysia Macan Asia
Penulis              : Khoridatul Anissa
Penerbit            : Garasi
Cetakan I         : November 2009
Tebal                : 243 halaman
Peresensi          : Muhammad Rajab*
Hubungan antara Indonesia dan Malaysia beberapa kali mengalami pasang surut. Pada tahun 1963, terjadi konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia. Perang ini berawal dari keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Sebenarnya hubungan Indonesi dengan Malaysia pada awalnya berjalan damai harmonis, khususnya dalam bidang pndidikan. Kerjasama antara Indonesia dengan negeri  jiran itu dalam bidang pendidikan berjalan dengan baik. Kenangan sejarah masa lalu turut mnguatkan anggapan itu. Ketika itu tahun 1970-an guru-guru Indonesia mendidik anak-anak Malaysia dalam mata pelajaran sains dan matmatika.
Kenangan masa lalu tersebut memang patut dibanggakan. Namun, jika melihat realitas saat ini maka boleh dikatakan su,dah berbalik. Reputasi Indonsia di bidang pendidikan di masa lalu itu tentu saja sudah menghilang, terutama setelah Malaysia mengalami kemajuan yang luar biasa jauh meninggalkan Indonesia yang terpuruk. Yang pada akhirnya Indonesia sendiri justru kian terbelakang di bidang pendidikan.
Sekarang ini bukan lagi guru yang dikirimkan ke Malaysia, tetapi para TKI legal dan illegal. Selain ekonomi dan pembanguan, pendidikan Malaysia sendiri tampaknya lebih mengalami kemajuan dibanding dengan Indonesia. Bahkan, mulai 2007 Kerajaan Malaysia secara resmi telah membuka peluang kepada pelajar Indonesia  untuk melanjutkan pendidikan tingkat sarjana di Malaysia.
Sebuah hubungan akan melibatkan minimal dua belah pihak. Ketika dihadapkan pada berbagai kepntingan, jalinan tersebut tidak selalu dapat mnjaga keharmonisannya. Begitu pula yang terjadi pada Indonesia dan Malaysia. Politik Ganyang Malaysia, konflik pulau Sipidan Ligitan, sngketa Ambalat, pembalakan hutan, klaim seni budaya adalah sekian masalah yang terjadi di antara dua Negara bertetangga, Indonesia dan Malaysia.
Berbagai masalah tersebut telah menutupi kenangan manis hubungan antara Indonesia dan Malaysia yang pernah terjalin di masa lalu. Seperti dalam bidang pendidikan, pertukaran pelajar, hingga kerjasama politik baik bilateral maupun kawasan (misalnya ASEAN). Bahkan tidak sedikit yang mengingatkan kembali ketika Indonesia menjadi salah satu negara yang tidak menyetujui kelahiran Malaysia sebagai negara boneka penjajah Barat (Inggris).
Pada 2000-2002 hubungan antara Indonesia dan Malaysia dapat dikatakan memanas karena masalah pulau Sipadan dan Ligitan. Kedua pulau ini secara geografis merupakan bagian dari kepulauan Indonesia, tetapi kasus ini berakhir dengan lepasnya kedua pulau ini dari Indonesia. Mahkamah Internasional menyatakan bahwa pihak Indonesia tidak menunjukkan keinginan untuk menguasai kedua pulau tersebut dan menyerahkan kedaulatan dua pulau tersebut kepada Malaysia yang telah dianggap melakukan penanganan efektif.
            Hubungan kedua Negara tersebut semakin memanas ketika Malaysia mengklaim laut Ambalat sebagai bagian dari wilayahnya. Malaysia mendasarkan klaim lautnya pada peta yang dikeluarkan pada 1979. Keberadaan Blok Ambalat sebagai bagian dari wilayah Malaysia diukur berdasarkan peta 1979. Menurut penulis buku ini, peta tersebut dikeluarkan secara sepihak atau unilateral sehingga tidak mempunyai implikasi hokum, tetapi mempunyai implikasi politis. Dalam peta tersebut telah tergambar klaim Malaysia, termasuk masalah-masalah batas laut. (hal. 197)
Tidak cukup pada klaim wilayah perbatasan negara, permasalahan terjadi juga pada rakyat Indonesia yang menjadi TKI di Malaysia dikejar-kejar pasukan RELA, dicambuki, ditangkap dan dipulangkan serta diejek  sebagai orang-orang yang tidak mampu diurusi negaranya. Negara yang pimpinannya korup serta memikirkan dirinya sendiri. Perempuan-perempuan kita menjadi babu di keluarga-keluarga Malaysia yang kadang disiksa dan dianiaya. Misalnya, penganiayaan yang terjadi pada akhir Juni 2009 lalu. Penganiayaan menimpa Modesta Rengga Kaka (27) asal Ngamba Deta, Sumba Barat, yang bekerja pada seorang majikan bernama Choo Pelling di Kuala Lumpur. Akibat penganiayaan itu, Modesta menderita luka akibat pukulan rotan di sekujur tubuh. (hal. 217)
            Buku ini bukan hanya mengulas konflik-konflik tersebut, melainkan juga mengulas tentang latar belakang terbentuknya Negara Malaysia. Mulai dari sejarah, proses kelahiran, dan perkembangan masing-masing negara bagian Malaysia. Selain itu, dengan bahasan yang kompreshensif buku ini juga menjelaskan tentang bagaimana Malaysia mengelola sumber daya alam yang melimpah dan bagaimana strategi negeri jiran tersebut mnghadapi krisis tahun 2007 yang melanda Asia dan krisis global yang terjadi belakangan ini. Yang pada intinya buku ini layak dijadikan referensi bagi masyarakat yang ingin mengetahui seluk beluk Malaysia secara detail dan komprehensif serta dinamika hubungannya dengan Indonesia.

*Peresensi adalah
Peneliti di Pusat Studi Islam (Forsifa) Unmuh Malang

Rabu, 08 Agustus 2012

Panduan bagi Pebisnis Produk Digital

Dimuat di rimanews.com
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah memantik berbagai macam kemudahan. Termasuk juga memudahkan para pebisnis untuk menjual berbagai macam produk yang dapat dikonsumsi oleh khalayak umum. Salah satu media teknologi yang sangat canggih dalam mempercepat pemasaran tersebut adalah internet.
            Tidak dapat dipungkiri bahwa telah banyak orang yang telah sukses dengan cara memanfaatkan media yang satu ini. Mendesaknya kebutuhan konsumen terhadap barang-barang yang diinginkan membuat internet menjadi alat alternatif yang paling signifikan untuk menemukan informasi produk yang diinginkan.
            Namun demikian, masyarakat Indonesia saat ini masih belum semua mampu menggunakan fasilitas internet dengan baik dan benar. Ada yang memahami internet hanya sebagai media untuk mendapatkan hiburan semata, atau menggunakannya hanya sebagai media jejaring sosial. Padahal ada sesuatu yang sangat penting untuk kita ketahui khususnya bagi para pebisnis, yaitu bisnis online. Mungkin sebagian sudah pernah mendengar dan tahu tentang bisnis ini, tapi masih bertanya-tanya bagaimana cara menggunakan dan mengoperasikannya.
            Buku karya Su Rahman ini hadir untuk memberikan kemudahan kepada para pebisnis dalam menjual produk digital lewat internet seperti e-book, template design, script program, software, dan lain-lain. Produk digital semacam ini memang banyak dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya bagi mereka yang sudah bersahabat akrab dengan komputer dan internet.
            Pembeli pun akan merasa diuntungkan dengan adanya bisnis online ini. Mereka dapat menemukan dan melakukan transaksi dengan mudah tanpa harus membutuhkan tenaga dan dana yang besar. Mereka cukup duduk di depan computer yang sudah terkoneksi dengan internet dan melakukan transaksi secara online di dalam rumah atau warnet.
            Banyak took-toko virtual yang diuntungkan dengan dari penjualan secara online, seiring berjalannya waktu produk yang ditawarkan di dunia maya ini kian beragam. Produk digital mulai masuk dan marak di internet, banyak penulis yang menjual e-book dan mendapatkan keuntungan dari penjualan tersebut. Banyak pula web programmer yang membuat aneka script untuk aplikasi-aplikasi tertentu dan menjual scriptnya secara online, mereka mendulang rupiah dari hasil penjualan tersebut. Tidak sedikit pula web designer yang membuat aneka template dan menjualnya secara online. (hlm. v)
            Su Rahman tidak hanya menuliskan tentang cara menjual produk digital saja dalam buku setebal 128 ini. Penulis juga berbagi ilmunya tentang bagaimana cara membuat produk digital itu sendiri. Seiring dengan kian majunya teknologi, untuk menciptakan suatu produk digital tidaklah sulit. Saat ini, siapa saja dapat membuat e-book, siapa saja dapat membuat album rekamannya sendiri dan kemudian menjualnya di internet dan meraup keuntungan dari penjualan produk-produk digital tersebut.
            Di luar negeri, produk digital ini menjadi komoditi perdagangan yang menjanjikan. Di Indonesia sendiri bisnis penjualan produk digital pun mulai digeluti. Karena berbisnis produk digital tidak membutuhkan biaya yang besar, cukup sebuah website yang menunjang untuk kebutuhan penjualan.
            Buku sederhana ini merupakan panduan yang cocok bagi mereka yang ingin memulai belajar bisnis produk digital secara online. Dengan bahasa sederhana, penulis memberikan cara membuat website penjualan produk digital yang dapat dipraktikkan oleh siapa saja. Lewat buku ini, kita juga akan dipandu untuk melakukan proses bisnis online tahap demi tahap, mulai dari produksi hingga pemasaran dan pelaksanaan transaksi. Pendek kata, buku ini sangat praktis dan aplikatif. Bahasanya tidak sulit untuk dipahami. Kita bisa membacanya sambil berhadapan dengan PC atau laptop. Selamat membaca!
__________________________
Judul buku      : Cara Instan Menjual Produk Digital Gak Pake Pusing
Penulis             : Su Rahman
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Cetakan I        : 2012
Tebal               : 128 halaman
ISBN               : 978-602-00-2656-5
Peresensi         : Muhammad Rajab, Pencinta buku tinggal di Malang

Rabu, 01 Agustus 2012

Jalan Terjal Menuju Kebahagiaan Hidup


Dimuat di Koran Jakarta, 14 Juli 2012

Semua yang ada di sekitar lingkungan bisa menjadi pelajaran berharga, termasuk novel. Novel yang baik dan menarik bisa membuat orang menangis terharu, tersenyum sendiri, tobat, bahkan mampu membakar semangat seseorang. Itulah novel Bunga-Bunga Kertas ini.

Dalam novel sederhana ini, terdapat pelajaran hidup yang sangat berharga. Ceritanya mengandung banyak nilai inspiratif untuk membangkitkan semangat hidup setelah mengalami "luka" yang dalam. Bisa dipastikan bahwa setiap orang pernah tidak disenangi yang membuatnya resah dan gelisah, bahkan frustrasi. Yang paling parah ialah mengakhiri hidupnya dengan tragis alias bunuh diri karena tak mampu mengatasi kesulitan hidup.

Novel Khusnul Khotimah ini mengandung pelajaran berharga cara menyembuhkan luka dan derita tersebut serta membalikkannya menjadi sebuah kebahagiaan. Ada tiga pesan utama yang bisa menyembuhkan kesedihan, yaitu cinta, ketegaran, dan kesabaran (hlm 283).

Hal ini terlukis dalam kisah Bunga -nama tokoh utama- novel ini yang mengalami penderitaan luar biasa sehingga hampir putus asa. Keadaan itu lalu dilukiskan dalam judul novel ini Bunga-Bunga Kertas, yang berarti walaupun tampak indah, kenyataannya bukanlah bunga sungguhan yang bisa memberi keharuman. Dalam kondisi demikian, datanglah cinta yang tumbuh di antara Bunga dan seorang pria yang kemudian menikahinya. Kehadirannya membuat semua berubah dan dia tegar kembali. Pada akhirnya dia bahagia.

Alkisah, bermula ketika kekaguman Bunga terhadap sosok ayahnya menguap dan berubah menjadi kebencian karena mendengar niat ayah untuk menikahi tante Siska, teman lamanya. Ia pun memilih pergi untuk meninggalkan rumah. Nahas, niatnya untuk menenangkan diri justru mendatangkan masalah baru. Ia diperkosa Ardi, pria yang sudah beristri. Bunga kemudian harus menikah paksa secara kontrak dengan Ardi (hlm 119-123).

Belum kering luka hatinya, wanita berusia 19 tahun itu harus kembali menahan perih ketika mendapat kabar bahwa ibunya meninggal. Ia pun terpaksa menyaksikan pernikahan ayahnya dengan tante Siska seorang diri. Kehamilan dan pernikahan paksanya dengan Ardi membuat Bunga memutuskan untuk meninggalkan rumah lagi. Kali ini, ia bertekad memulai hidupnya sendiri bersama calon anaknya.

Namun, masalah sepertinya tak henti mengejar Bunga. Luka hatinya kembali tergores ketika mengetahui ayahnya hilang ingatan akibat kecelakaan. Akhirnya tante Siska menguasai seluruh harta keluarganya. Di tengah keterpurukannya, seorang pria bernama Azwar datang mengulurkan tangan dengan seulas senyuman hangat, menariknya kembali untuk berdiri tegak menatap masa depan.

Azwar adalah kakak teman lamanya, Nabilla. Bunga mengenalnya lewat Nabilla. Bunga kemudian menikah dengan Azwar, kemudian Bunga mampu bertahan dan tegar menghadapi masalah. Akhir cerita, Bunga mampu meraih cita-citanya untuk kuliah di kedokteran. Ini adalah kebahagiaan yang tak terhingga baginya setelah mengalami hantaman banyak masalah (hlm 286).

Pada intinya, buku setebal 308 halaman ini berpesan untuk mencapai kebahagiaan harus melalui berbagai macam ujian. Jika manusia tabah dan tegar menghadapi ujian itu, kemungkinan besar akan berakhir bahagia. Agar bisa tabah dan tegar, diperlukan cinta sebagai pendorong menggerakkan pikiran dan langkah ke arah yang positif.

Diresensi Rahmah Farihatus Sholihah, Penikmat buku

Judul buku : Bunga-Bunga Kertas
Penulis : Khusnul Khotimah
Penerbit : Safirah
Cetakan : I, Juni 2012
Tebal : 308 halaman

“Gelombang Ketiga” dalam Islamisasi Nusantara


Judul buku        : Cheng Ho; Penyebar Islam dari China ke Nusantara
Penulis              : Tan Ta Sen
Penerbit            : Buku Kompas
Cetakan I         : Juni 2010
Tebal                : xxii+460 halaman
ISBN               : 978-979-709-492-8

Dalam buku ini Tan Ta Sen berusaha meneguhkan teori “gelombang ketiga” dalam sejarah penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara. Setelah berlangsungnya dua gelombang pengaruh Islam yang datang melalui jalur perdagangan dari Gujarat (India) dan Timur Tengah, kemudian terjadi pula “Gelombang Cina” yang juga merupakan arus besar penyebaran Islam ke Asia Tenggara, termasuk kepulauan Nusantara.
Tokoh Cina yang melakukan penyebaran Islam di Nusantara adalah laksamana Cheng Ho. Dialah laksamana laut muslim pada Dinasti Ming (1368-1644) yang selama 27 tahun (1405-1433) telah memimpin tujuh pelayaran ke selatan dan mengunjungi banyak negara serta wilayah. Tokoh yang setia menemani Cheng Ho di tiga dari tujuh pelayaran yang dilakukannya adalah Ma Huan. Ia mencatat banyak hal dari pelayaran Cheng Ho. Bahkan tulisannya dijadikan sebuah jurnal yang diberi judul Yiangyai Shnglan.
Ma Huan menulis, bahwa Cheng Ho telah lima kali mengunjungi Nusantara dan singgah di Sumatera dan Jawa. Lokasi di kedua pulau yang dikunjunginya  antara lain Samudera Pasai (Aceh sekarang), Palembang, Semarang dan Cirebon. Cheng Ho bukan hanya memamerkan keperkasaan militer kaisar dinasti Ming, menunjukkan keluhuran kebudayaan Cina, dan menata kembali hubungan militer yang terputus dengan negara-negara di wilayah selatan menjelang runtuhnya Dinasti Mongol. Akan tetapi Cheng Ho juga berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di berbagai kawasan yang dikunjunginya itu.
Ekspedisi-ekspedisi Cheng Ho ke kepulauan Melayu menemukan sejumlah pemukiman orang Cina di jawa dan Sumatera. Hal demikian mengandung nilai sejarah yang sangat penting, baik dalam sejarah Cina maupun Asia Tenggara. Itu memberikan dimensi politik budaya baru dan perspektif baru dalam bagi misi-misi diplomasi dan perdagangan Cheng Ho. Hal ini memiliki dampak langsung pada masyarakat Cina perantauan di Indonesia dan juga terhadap penyebaran Islam di Jawa melalui orang muslim Cina di sana. (hal. 254)

Kontak Budaya
Buku yang ditulis oleh Presiden Internasional Zheng He Society dan juag Direktur Cheng Ho Museum Cultural Museum Malaka ini menghadirkan bukti-bukti sejarah yang menguatkan teori “gelombang ketiga” itu.  Cheng Ho telah meninggalkan warisan abadi berupa pertukaran budaya lintas-benua antara Timur dan Barat.
Ekspedisi-ekspedisnya telah memperluas dan memperdalam kontak budaya antar budaya serta intra regional di Asia. Sejumlah besar  laporan tangan pertama tentang misi-misi Cheng Ho tersedia dalam kronik-kronik Cina, Jepang, dan Jawa yang menekankan pentingnya ekspedisi-ekspedisi itu, dan membangkitkan perhatian luar biasa di berbagai penjuru Asia.
Cheng Ho ahli dalam memperbaharui dan membangun masjid dan kelenteng-kelenteng. Dia yang bertanggung jawab atas rekontruksi Pagoda Opaque dan Kuil Da Baoan Budhis di Nanjing, renovasi masjid Jingjue di Nanjing, masjid Qinjing di Xian dan kelenteng Mazu di Quanzhou. Cheng Ho membangun banyak masjid di Semarang, Ancol, Tuban Gresik, Cirebon, dan lain-lain untuk menumbuhkan komunitas-komunitas Cina muslim madzhab Hanafi di Jawa. Meskipun masjid-masjid kuno yang dibangun Cheng Ho di Jawa itu mungkin telah hancur dan direnovasi, karya-karya yang dirintisnya pasti mempengaruhi para perancang dan pengembang berikutnya. Sebab itu, bekas-bekas pengaruh arsitektur Cina pada bangunan-bangunan religius lokal di tempat-tempat yang pernah dikunjungi Cheng Ho masih tampak jelas. (hal.280)
Buku ini mempunyai dua ciri khas yang membedakannya dengan buku atau artikel yang pernah terbit di negeri ini mengenai peraan Cheng Ho dalam proses islamisasi di Nusantara. Pertama, ia telah memperkuat asumsi tentang adanya arus Cina dalam proses islamisasi di Asia Tenggara, khususnya di Kepulauan Nusantara dengan didasarkan kepada bukti-bukti yang dapat diterima secara ilmiah.
Kekuatan buku utama dari buku yang berasal dari disertasi yang dipertahankan di hadapan dewan penguji Universitas Indonesia ini, terletak pada pembacaan atas naskah-naskah kuno yang ditinggalkan oleh dinasti yang pernah memerintah daratan Tiongkok, khususnya kekaisaran Ming. Di antara naskah-naskah kuno yang ditelusuri dan dikaji secara kritis oleh Tan Ta Sen adalah Mingshi (Sejarah Dinasti Ming), Mingshi Lu (Sejarah Sejati Dinasti Ming), Yingyai Shenglan, Xingxia Shenglan (Survei tentang Negara-Negara di Bawah Bintang), Xiyang Fanguozi (Catatan tentang Negara-Negara Asing) dan lain-lain.
Kedua, Tan Ta Sen telah memperkuat asumsi, dengan didasarkan pada penelitian atas bukti-bukti tertulis, mengenai adanya “arus ketiga” dalam proses penyebaran Islam di Indonesia. Selama ini mungkin kita baru mengenal tentang dua arus utama, yakni arus India (Gujarat) dan Arab.
Untuk memperkuat argumennya, Tan Ta Sen menghadirkan bukti-bukti berupa gambar-gambar bangunan bersejarah, seperti masjid-masjid berarsitektur Cina, batu-batu nisan, ornamen-ornamen Tam Sam Cai, dan keramik-keramik Dinasti Ming era Cheng Ho untuk wadah air suci di masjid-masjid tua Indonesia. Hal ini memberikan nilai tambah tersendiri bagi buku ini untuk memperkuat keabsahan ilmiahnya
.
*Peresensi adalah
Penikmat Buku dan Penggiat Kajian di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSiF) Unmuh Malang